sapa

ada sapa dalam setiap temu, meski akhir tak selalu bertemu rindu

13.11.18

Hujan Semalam

ada yang berbeda dari hujan semalam
rintik yang biasanya mengantarkanku kepada kenang dan luka
seketika berubah menjadi rintik harapan

Kau Tuan Asing
   yang pernah aku asingkan dan tak aku inginkan
namun hujan semalam berbeda
memberiku isyarat tentang keberadaanmu yang lebih lekat dari waktu

jarak yang dulu begitu nyata
kini hanyalah kisah dan dongeng belaka

terima kasih
kau selalu membawa kisah yang tak pernah terduga
dengan sabar kau menggiring kembali rintik hujan dari lautan

kini,
tetaplah menjadi tornado
yang bertiup kencang pada satu pusaran yang sama

atau menjadi angin yang meski perlahan
      namun selalu menemaniku
dari lautan menuju daratan



13 November 2018

10.10.18

Berhentilah

Terkadang aku khawatir. Jika suatu saat kau benar-benar menemukan dirimu dalam tulisan-tulisanku. Menyaksikan bagaimana aku terpuruk setelah kehilanganmu. Menemukan sebenar-benarnya aku yang rapuh. Maka aku telah gagal menyembunyikan segala yang tersisa dalam diri ini.

Terkadang aku khawatir. Jika suatu saat kau benar-benar berkata padaku apa yang aku mau. Sebab, aku tak bisa lagi menyaksikan mata sembab yang aku ciptakan dimatamu karena rasa bersalah. Sedang, aku tahu bahwa akulah si biang masalah.

Jika suatu saat, kau benar-benar ingin melakukan itu, berpura-puralah seperti biasanya. Tetaplah membuat aku hidup dalam kepura-puraanmu. Sebab aku tak lagi bisa membedakan, mana aku dan kepura-puraan.

Jika suatu saat, kau benar-benar ingin mengatakannya, berpura-puralah seperti biasanya. Sebab ketidaktahuan akan tetap membuatmu tetap disini bersamaku.

Waktu telah begitu lama mengikatku padamu. Jauh sebelum aku menyadarinya. Jauh, sebelum jarak telah banyak memudar diantaranya. Aku hanya ingin kau terus hidup bersamamu.

Sekali pun dalam kepura-puraan.

7.9.18

Terima kasih
Kau telah membawaku pergi ketempat yang teduh
Hingga aku dapat berlindung dari sengatan matahari yang mematikkanku

Setidaknya untuk saat ini

Kini adalah kamu
Yang membuat aku menunggu
Untuk dibawa lagi
Ke tempat yang baru
Ke tempat yang tak hanya penuh luka
Tapi juga bahagia

Kini adalah waktu mu
Kini adalah waktu kita

Setidaknya untuk saat ini

16 Mei 2018
9.01 PM
Jika saja saat itu aku masih punya kesempatan, satu detik saja untuk mengatakannya padamu, mungkin semua rasa yang tersisa hingga hari ini akan selesai. Tiada lagi yang harus aku pertanyakan.


Jika saja saat itu kau masih punya kesempatan, satu detik saja untuk mendengarkan apa yang tersisa dariku hingga selesai. Tiada lagi yang harus kau tunggu.

Jika saja, saat itu ada sedikit keberanian.

Kau telah salah, salah menilaiku yang menurutmu penuh keberanian, sedang bertemu denganmu dan mengatakannya akupun tidak mampu.

Aku telah salah, salah dalam menilaimu yang terlalu menaruh kepercayaan padaku, hingga aku besar kepala untuk tidak mengakui kesalahanku.

Kita memang salah


Sudahkah kau memaafkan?
Sudahkan kau meminta maaf?


Sudahkah aku meminta maaf?
Sudahkan aku memaafkan?

Pada kita yang saling menunggu. Menunggu keberanian, hanya untuk sekedar mengatakan......

Maaf.



Tapi sebelum itu semua,



Sudahkah kita memafkan ...


diri kita sendiri?



1 Agustus 2018
4.35 PM

Elegi



hujan yang menggerimis malam itu
mengantarkanku pada luka
yang telah mengerak sejak lama

hujan yang menderas pagi itu
mengantarkanku pada duka
yang telah membasuh airmata

air terakhir telah jatuh
menetes perlahan
terseret arus zaman
tergerus asa

aku
tertimbun dalam tanah
yang basah
yang merah

aku tenggelam




pohon yang memancang di ujung tebing itu
menopang harapan
melaju waktu membersamaiku
mengatarkanku pada asa yang baru


aku menguap 
namun angin membawaku kembali
pada Yang Satu
dalam helai daun yang gugur sore itu









7 September 2018

31.8.18

Pohon Kehidupan

Pada akhirnya aku hanya akan menjadi ranting
   ranting yang rapuh dan patah
            kemudian kembali jatuh 
      dan terkubur dalam tanah
      terus
                 jauh
                           kedalam tanah

hingga awaktu terus menggerus
   entah kepermukaan
 atau lenyap sama sekali

   ranting yang terjatuh
dari pohon kehidupan

dengan jurang yang mengelilingi setiap jengkal tubuhnya
     pohon tak bisa beranjak
  hanya mimpi yang menggapai 
dari tempat yang entah

dan tujuanku hanyalah tanah
       tanah yang gelap
                       dan 
                sunyi





cermin diri
140212
10.57



Senja dan Hujan

Adalah hal yang ku benci
   saat senja menepuk pundakku
   menyentuh perlahan lalu berpamitan
Memberi keindahan diakhir pertemuan
   merah tanpa kecupan


Adalah hal yang ku benci
   saat hujan datang tanpa permisi
   menyentuh wajahku lalu membasahi pipiku
Memberi kesegaran di awal pertemuan
   tetapi hilang meruap dengan kenang

Adalah hal yang ku benci
   melihat diriku yang membencimu
   membenci senja
   membenci hujan

Adalah hal yang ku suka
   hanya satu 
   kamu




18 April 2017

19.5.18

Cahaya Terakhir

Kereta yang ku sangka membawa ku pergi dari rasa duka
Justru mengantar ku padamu
Dimana luka terbuka
 lebih menganga

Cahaya yang datang dari timur nyatanya terlalu menyengat bagiku
Sinarnya telah menghangatkan hatiku yang membeku hingga lebur
Namun sayang, sinar itu juga yang membuatku hilang
lenyap tanpa sisa

Kereta dan cahaya
Mereka berkonspirasi untuk mengantarkanku pada luka
Hingga dinanahku, tertulis namamu
Sesuatu yang tak mungkin dapat ku hilangkan


Mengapa dulu cahaya berjanji untuk mengantarku dengan kereta kebahagian
Nyatanya kau hanya mengantarku di stasiun, memintaku pergi
Dengan kereta kencanaku


Kau dulu menjanjikan masa depan, nyatanya kau lah yang hilang
Melebur tak bersisa
Musnah karena tak sanggup menahan panas dirimu sendiri


Bandung
19 Mei 2018

10.5.18

Purnama ke 90

cinta yang terlupakan
cinta yang tak pernah kasat mata
cinta yang diam diam

dia
kamu
sama saja

hingga akhirnya aku mencari cinta yang selama ini kalian sembunyikan

adakah tersisa untukku?
atau justru seluruh cinta itu telah kau persiapkan dengan utuh hanya untukku?

malam ini, Sayang
dadaku tertahan
kenangku tertawan
pada detik dimana air mata tak pernah ku saksikan

mengalir begitu deras
sebagai tanda sesal
sebagai tanda maaf
sebagai tanda yang artinya tak pernah ku temukan di kamus mana pun di dunia ini

purnama malam ini, Sayang
aku mungkin hanya rembulan yang telah kehilangan sebuah bintang
tapi aku kehilangan bintang yang paling terang
aku kehilangan sebuah cahaya
cahaya yang pernah menuntunku dari kegelapan

kemudian semua menjelma dingin
kemudian semua menjelma gelap
kemudian semua menjelma sesak

purnama kali ini begitu berbeda, Sayang
ada sebuah angin yang aku harap akan mengantarku kembali menujuMu

untuk kembali menjadi aku
            yang kau rindui
            yang kau cemburui
            yang kau cintai

sekali pun dalam diam dan tangismu



10 Mei 2018

Ba'da Magrib





21.3.18

Perbincangan di Sofa Hitam

Sewindu,
aku menyembunyikanmu dalam kata-kata
Dalam sebab yang tak kupahami
Dalam sembab yang kemudian aku temui
Secangkir coklat bahkan tak cukup
Menjadi ruang kegelisahan yang menjebak
Nyatanya kita terlalu berjauhan
Pada rindu juga harap

Jika kelak, padamu datang aku yang baru
Masihkah ada yang kau tuangkan pada waktu
      saat itu
Atau justru, dengan sebab itulah kau pergi
Menyusuri jalan yang menyesatkanku
Membutakanku

Setelah kau nina bobokan aku dengan dongeng-dongeng
Yang aku tahu, kau cipta demi membuatku bahagia
Nyatanya,
menjadi sebuah drama baru
Yang tak pernah usai
Meski telah selesai

Bagaimana aku dimatamu sesungguhnya?

Apa tak pernah ada arti dari sewindu yang terlalui?

Atau aku hanya kau anggap sebagai air

yang dengan sengaja jatuh 
untuk sekedar menghapuskan air matamu ditengah hujan?
Ataukah aku hanya kau anggap sebagai air
Yang telah menggenang dan mengotori sepatu kesayanganmu?

Jika kelak, datang padamu aku yang baru
Ketahuilah, bahwa mencarimu adalah hidup bagiku
Dan hari ini, aku berhenti mencarimu.



Bandung, UPI, Pascasarjana
21 Maret 2018 . 01.10 PM

11.2.18

Dimensi

Suatu ketika
Waktu membawaku pada sebuah dimensi
 yang lenuh dengan warna, tawa, dan aroma kehangatan yang terpencar dari setiap sudutnya
Aku disambut ledakan kegembiraan yang menumpah
Di dimensi itulah, ku temukan senyumku yang telah lama hilang
Senyum yang lantas kemudian tak bertuan sejak lama kutinggalkan

Lalu sebuah badai datang

Hujan menarikku pada dimensi yang lain
Dimensi tergelap dan tersempit yang pernah aku datangi
Tiada sambutan, hanya keheningan yang menakutkan
Tiada satupun cahaya dan suara
Hening
Gelap
Setiap harinya hujan ratapan turun, menggerayangi setiap inci dari mata dan pipiku
Dimensi yang mengerdilkanku dan membuatku tersudut dalam tepi yang tak berujung

Adakah cara lain?

Cara yang sama seperti saat aku datang ke dimensi yang pertama

Adakah cara lain?

Cara yang bisa membuatku pergi dari dimensiku yang pertama


Adakah cara lain?

Selain aku tertunduk pasrah dan lari tiada henti di dimensiku yang baru

Adakah cara lain?

Selain aku mati tanpamu



14 Januari 2018
2.05

7.1.18

Ruang Tanpa Jemu

Tahun 2006, aku menemukan sebuah ruangan.
Ruangan yang begitu unik, sehingga membuatku tertarik.

Disana, aku menemukan banyak hal.
Disana, aku menemukan diriku sendiri.
Aku yang berjalan perlahan, mengamati sekitar, dan mencoba belajar dari setiap proses yang teracik mengisi seluruh ruang.

Banyak orang diluar ruang itu bertanya, 'apa yang membuatmu nyaman di ruang yang begitu sesak dengan orang-orang?'.

Aku tidak tahu jawabannya.


Tapi, sejak kejadian Desember 2011, saat aku mulai menemukan sebuah jawaban, orang semakin mendesak dengan banyak pertanyaan.


"Masih bisakah kau berdiri di dalam sana?"
"Masih kuatkah?"
"Tidak adakah rasa peduli dan iba pada dirimu sehingga kamu korbankan kesedihan hanya untuk egomu?"


Tapi tidak.

Orang tidak pernah tahu.


Sejak hari itu, justru aku semakin melekat.
Aku merasa ia dekat.
Aku merasa dia mendekap.
Dia selalu ada bersamaku.
Diantara tawaku dan cahaya setiap purnama yang memendar.


Aku terluka.

Tak ada luka yang lebih mengaga dari pada yang kurasakan ini.

Tapi aku bertahan.
Demi sebuah perjuangan yang mungkin orang lain lupakan.


Ada sebuah beban.

Cukup aku saja.
Cukup ia saja.
Jangan pernah ada aku atau dia yang kedua kalinya.
Jangan sampai luka ini kembali terbuka.
Jangan sampai.

Untuk itulah aku tetap berada di dalam ruang itu.
Mengisi yang kosong, menata yang isi.
Sehingga tak akan ada celah untuk salah.





Cukup aku saja.

Cukup dia saja.

Jangan pernah ada kami untuk yang kedua kalinya.


7 Desember 2018