: untuk Muhammad Ghazi Ibrahim
ketika rindu ini perlahan terus menggerogoti tubuhku
mempreteli bagian tubuhku satu persatu dari tempatnya
ketika diam ini perlahan terus menjelma sepi
membekukan jantung dan semua urat syarafnya
ketika do'a ini perlahan terus meraban cakap
membaris pula disana mimpi dan air mata
matahari kehilangan hangatnya, karena hanya ada dingin yang mampu aku resap
air kehilangan jernihnya, karena hanya keruh yang mampu ku cecap
kau masih ada disini
berbaring nyenyak dalam permadani tebal yang telah kusiapkan sejak lama
dengan selimut hangat dan mainan kesayanganmu
menunggu ibu
membangunkanmu dengan lembut diujung kasur
sambil menyiapkan secangkir susu kesukaanmu
menunggu ayah
mengimami shalatmu dengan khusyuk diujung sejadah
sambil melantunkan dzikir dan asmaNya
menunggu aku
mendengarkan ceritamu dengan sabar diujung kursi
sambil memakan kudapan yang sudah kita siapkan sebelumnya
menunggu,untuk berkumpul kembali
sampai akhhirnya
tubuhku akan merasakan kembali hangatnya matahari
mencecap kembali riaknya air
dan kemudian
rindu menyusun kembali tubuh yang terlepas
diam menjadi lebih ramai dari gaduh
do'a membaris kata dan mimpi yang pergi