sapa

ada sapa dalam setiap temu, meski akhir tak selalu bertemu rindu

7.1.18

Ruang Tanpa Jemu

Tahun 2006, aku menemukan sebuah ruangan.
Ruangan yang begitu unik, sehingga membuatku tertarik.

Disana, aku menemukan banyak hal.
Disana, aku menemukan diriku sendiri.
Aku yang berjalan perlahan, mengamati sekitar, dan mencoba belajar dari setiap proses yang teracik mengisi seluruh ruang.

Banyak orang diluar ruang itu bertanya, 'apa yang membuatmu nyaman di ruang yang begitu sesak dengan orang-orang?'.

Aku tidak tahu jawabannya.


Tapi, sejak kejadian Desember 2011, saat aku mulai menemukan sebuah jawaban, orang semakin mendesak dengan banyak pertanyaan.


"Masih bisakah kau berdiri di dalam sana?"
"Masih kuatkah?"
"Tidak adakah rasa peduli dan iba pada dirimu sehingga kamu korbankan kesedihan hanya untuk egomu?"


Tapi tidak.

Orang tidak pernah tahu.


Sejak hari itu, justru aku semakin melekat.
Aku merasa ia dekat.
Aku merasa dia mendekap.
Dia selalu ada bersamaku.
Diantara tawaku dan cahaya setiap purnama yang memendar.


Aku terluka.

Tak ada luka yang lebih mengaga dari pada yang kurasakan ini.

Tapi aku bertahan.
Demi sebuah perjuangan yang mungkin orang lain lupakan.


Ada sebuah beban.

Cukup aku saja.
Cukup ia saja.
Jangan pernah ada aku atau dia yang kedua kalinya.
Jangan sampai luka ini kembali terbuka.
Jangan sampai.

Untuk itulah aku tetap berada di dalam ruang itu.
Mengisi yang kosong, menata yang isi.
Sehingga tak akan ada celah untuk salah.





Cukup aku saja.

Cukup dia saja.

Jangan pernah ada kami untuk yang kedua kalinya.


7 Desember 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar