dalam dekap dan harap
candaku menjelma do'a
Tuhan, Tuhan, Tuhan
hanya ada Kau dalam debur jantung ini.
semoga perjalanan kita dilindungi olehNya
Kereta Api Kahuripan Kiaracondong - Kediri
13 November 2012
21.16
meski pengap sampai mengap mengap
rindu ini yang terus menjelma sesak
Puncak para Dewa, kesanalah
akan kami pijak
adik MG
Kereta Kahuripan Kiaracondong - Kediri
14 November 2012
08.39
Lembah masih menjadi saksi perjalanan kita
...... Dan aku, masih akan terus berjalan
Ranupane, Malang
15 November 2012
08.56
Dari menggali kemudian mengenal
dan kami takkan lepaskan jejak langkah ini
MAHAMERU passed 3676 mdpl
Kereta Kahuripan Kediri - Yogyakarta
19 November 2012
14. 53
diri adalah musium kata yang terluas dari segalanya. tempat terciptanya berbagai bahasa dan peribahasa. tempat terciptanya asa dan rasa. tempat terciptanya daya dan upaya. maka dari itu, aku menciptakan diri yang terus menciptakan.
sapa
ada sapa dalam setiap temu, meski akhir tak selalu bertemu rindu
24.7.13
17.7.13
kelambu
aku berdiri diatas gundukan tanah merah.dengan taburan bunga warna warni di atasnya.ada yang masih basah,ada juga yang sudah mengering.mungkin pelayat datang dengan bergantian.aku masih belum percaya.aku kini sudah benar benar kehilangannya.berjuta kelambu ku selimuti.dan aku berharap,aku bisa kembali tertidur dengan mu nanti.tunggu aku.Nek.
150510
pepunyaanku
aku punya rambut,
yang bisa kau elus dan usap,
Kak.
aku punya bahu,
yang bisa kau sandari saat kau sedih dan lelah,
Dik.
aku punya jemari yang halus,
yang bisa kau pakai untuk menghapus air matamu saat menangis,
Nak.
aku punya bibir dengan kecupan hangat,
yang bisa kau rasakan saat aku mencium telapak tanganmu,
Bu.
aku punya mata,
yang bisa kau rasakan tatapan segan untukmu,
Yah.
aku punya tangan,
yang bisa menggenggam dan merangkulmu,
Kawan.
aku punya sesuatu yang menempel ditubuhku
dan bukan hanya untuk aku,
tapi untuk kalian.
110510
begitukah rindu?
aku mungkin telah kehilangan dirimu
tapi aku tak akan membiarkan kehilangan kata kata untuk menggambarkan keindahanmu
sudah berapa lama ini berlangsung?
Kulihat,bulan sudah bergulir cepat mengikuti alur waktu yang misterius
langit perlahan melukis wajahmu.melukis dengan sangat hati hati
dan sempurna,semua rinduku telah mewarnai rupamu
tak pernah aku serindu ini
mungkin kau tahu,namun tak kau sampaikan
aku masih sering berandai,tapi percuma saja
berandai dalam hati sendiri itu sudah nyata
aku sudah kehabisan kata kata
sudah ku koyak ribuan tong sampah
tak juga ku temukan sisa sisanya
ah sudahlah,
aku mungkin sudah terlalu banyak bicara
sampai jumpa dilain kesempatan
untuk Muhammad Ghazi Ibrahim
01 juni 2012
21.03
Kereta yang Tak Kunjung Tiba
19 tahun bahkan angka itu sebentar lagi akan menjadi 20
entah
tapi Tuhan begitu hebat merubahnya dalam hitungan detik
di stasiun pemberangkatan,,
(beberapa orang menyebutnya demikian)
aku termanggu menompang dagu
sama seperti aku 19 bahkan hampir 20 tahun yang lalu
tak ada bangku
tak ada kepala stasiun
tak ada angin
tak ada cahaya
yang ada hanya nafas
detik detik berlari kerdil diatas rel
(aku kira mereka berlari karena kereta mengejar mereka)
tapi mereka hanya sekedar bermain menghibur jasad yang kehausan
kereta yang ditunggu belum juga datang setelah hampir malam kembali tenggelam
tak ada getaran di atas rel
tak ada suara gema dari kejauhan
yang ada hanya suara desah dari nafasku
(yang saat itu sudah mulai tersenggal)
kulihat jam berkali kali
beratus ratus kali
bahkan hampir setiap 5 menit satu kali aku menjenguk jarumnya yang sedang menari
tetapi kereta belum juga hadir
tikus tikus
(kutemukan di gorong gorong belakang stasiun)
sudah hampir pula kehabisan nafas
tak ku beri nafas buatan,,
karena aku pun sudah tak kuat
penat sudah mulai menggodaku
aku masih menunggu
kulihat sesekali kearah kereta biasanya datang
masih tak ada kabar
aku masih menunggu
kereta kematian
yang mengantarku
menuju jasad yang terbaring dalam kedamaian
aku masih menunggu
kereta yang mengantarkanku
menuju rumahMu
aku masih menunggu
(kereta yang tak kunjung tiba)
20.00
13 Mei 201
bising terasing
do'a aku,ayah,dan ibu
bersama,,dalam keheningan aku merengkuh peluh
tak ada kata kata yang dapat aku curi untuk sekedar menulis namanu disini
tak ada ruap udara yang terhempas di pelantaran tubuhmu yang sembilu
tak ada tanah yang menapaki jejak jejak keluguanmu
bersama segenggam kearifan ayah,,aku berserah
bersama seikat kelembutan ibu,,aku bersimpuh
dalam do'a kami larut menatap wajah bisumu
tak ada mentari yang akan menguapkan namamu dari tanah
tak ada angin yang akan menghempaskan senyummu dari daun
tak ada sendu yang akan mengalirkan tawa dari mata sayuku
apa kau melihatku??
aku sedang melihatmu disini
dan aku merindukan wajahmu
seperti aku merindukan wajahNya
bersama do'a
aku,ayah, dan ibu
040211
08.19 pm
040211
08.19 pm
setelah bulan berlalu
Berjuta mata telah sedemikian sembab walau hanya sekedar mengenang namamu
Ada beberapa yang tak mengenalmu, namun mereka tetap peduli
Dan beberapa yang lainnya terus bergelut dalam kedukaan
Baik baik sajakah kau disana?
Aku yakin Dia takkan berbuat jahat padamu, karena kau adalah orang baik
Aku sendiri sadar, sampai kapan pun aku bicara
pada mentari, pada langit, pada bulan, pada pelangi, atau diatas gundukan tanah merah tempat kau berbaring dibawahnya
aku takkan pernah bisa lagi menyentuh wajahmu
Kau ingat tidak?
Sesaat sebelum kau meninggalkan rumah singgahmu, kau sedang berlari mengejar waktu
Apakah saat itu kau sedang melawan kesakitan?
Yang saat itu aku kira hanya sebuah kekonyolan
Maafkan aku untuk itu
Aku baru menyadarinya saat kau sudah jauh melangkahkan kakimu diluar rumah
Entah kemana
Hei,
Kau telah menunjukkan padaku banyak hal
Tentang perjuangan
Tentang kekuatan
Tentang keyakinan
Tentang kasih sayang
Tentang menghargai
Tentang keikhlasan
Dan tentang ketabahan
Aku tak tahu seberapa lama kau menahan kesakitan itu.
Seberapa sakit kau menahan semuanya.
Tapi tak sedikitpun keluh yang keluar dari mulut khas mu.
Tahukah.
Sudah 2 bulan lebih aku tak mendengar decak tawamu
Melihat senyuman khasmu
Mendengar raung tangisanmu
Melihat kepolosan wajahmu saat kau tertidur
Selama waktu itu berjalan
Aku masih belum sanggup untuk menahan diri dari kedukaan
Aku masih rapuh
Aku tahu kau tak menginginkannya
Aku pun tidak
Tapi aku merasa belum mampu
Aku masih selalu takut jika malam menjelang dan melihat ayah dan ibu tertidur lelap
Aku takut
Jika keesokan harinya aku tak bisa melihat mereka
Aku takut jika yang kulakukan tak berbuah apa apa untuk mereka
Aku tahu ini berat
Tapi Tuhan telah memberiku bahu untuk menopang seluruh beban yang Ia berikan padaku
Semoga bahuku cukup kuat untuk menahan semuanya
Airmataku tak akan bisa membayar apapun
Senyumanku tak akan bisa mengobati apapun
Amarahku tak akan bisa menyelesaikan apapun
Tapi dengan keikhlasan ayah dan ibu
Aku mendapatkan semua itu
Aku sangat sadar
Pesan ini takkan pernah terbaca olehmu
Hal yang mustahil kurasa,
Tapi aku berharap kau tahu satu hal
Bahwa aku
S A N G A T M E N Y A Y A N G I M U !!!
Untuk adik dengan senyuman manis berhidung mancung
Dari seorang kakak yang rapuh yang sangat menyayanginya
10:54
020311
Bandung, Bumi Siliwangi
Ada beberapa yang tak mengenalmu, namun mereka tetap peduli
Dan beberapa yang lainnya terus bergelut dalam kedukaan
Baik baik sajakah kau disana?
Aku yakin Dia takkan berbuat jahat padamu, karena kau adalah orang baik
Aku sendiri sadar, sampai kapan pun aku bicara
pada mentari, pada langit, pada bulan, pada pelangi, atau diatas gundukan tanah merah tempat kau berbaring dibawahnya
aku takkan pernah bisa lagi menyentuh wajahmu
Kau ingat tidak?
Sesaat sebelum kau meninggalkan rumah singgahmu, kau sedang berlari mengejar waktu
Apakah saat itu kau sedang melawan kesakitan?
Yang saat itu aku kira hanya sebuah kekonyolan
Maafkan aku untuk itu
Aku baru menyadarinya saat kau sudah jauh melangkahkan kakimu diluar rumah
Entah kemana
Hei,
Kau telah menunjukkan padaku banyak hal
Tentang perjuangan
Tentang kekuatan
Tentang keyakinan
Tentang kasih sayang
Tentang menghargai
Tentang keikhlasan
Dan tentang ketabahan
Aku tak tahu seberapa lama kau menahan kesakitan itu.
Seberapa sakit kau menahan semuanya.
Tapi tak sedikitpun keluh yang keluar dari mulut khas mu.
Tahukah.
Sudah 2 bulan lebih aku tak mendengar decak tawamu
Melihat senyuman khasmu
Mendengar raung tangisanmu
Melihat kepolosan wajahmu saat kau tertidur
Selama waktu itu berjalan
Aku masih belum sanggup untuk menahan diri dari kedukaan
Aku masih rapuh
Aku tahu kau tak menginginkannya
Aku pun tidak
Tapi aku merasa belum mampu
Aku masih selalu takut jika malam menjelang dan melihat ayah dan ibu tertidur lelap
Aku takut
Jika keesokan harinya aku tak bisa melihat mereka
Aku takut jika yang kulakukan tak berbuah apa apa untuk mereka
Aku tahu ini berat
Tapi Tuhan telah memberiku bahu untuk menopang seluruh beban yang Ia berikan padaku
Semoga bahuku cukup kuat untuk menahan semuanya
Airmataku tak akan bisa membayar apapun
Senyumanku tak akan bisa mengobati apapun
Amarahku tak akan bisa menyelesaikan apapun
Tapi dengan keikhlasan ayah dan ibu
Aku mendapatkan semua itu
Aku sangat sadar
Pesan ini takkan pernah terbaca olehmu
Hal yang mustahil kurasa,
Tapi aku berharap kau tahu satu hal
Bahwa aku
S A N G A T M E N Y A Y A N G I M U !!!
Untuk adik dengan senyuman manis berhidung mancung
Dari seorang kakak yang rapuh yang sangat menyayanginya
10:54
020311
Bandung, Bumi Siliwangi
Langganan:
Postingan (Atom)
