Suatu hari, aku menemukanmu lewat sebuah tatap disebuah taman. Sorot mata yang tajam tercuri diantara sela sela rambut yang terkena terpaan angin.
Saat itu aku sedang memandangi awan sambil duduk di atas sebuah kursi batu. Daun daun mulai gugur, menandakan musim gugur akan segera tiba. Hembusan angin yang cukup kuat, telah menjatuhkan sehelai daun tepat di pundakku. Menuntaskan lamunan tentang harapan dan masa depan. Aku menengok, mencari dari pohon mana daun itu berasal. Angin mengarahkanku pada sebuah pohon yang rimbun. Dan kau diam diatas rumput dibawahnya.
Aku memperhatikanmu diam diam. Aku berusaha menatapmu lekat lekat. Sampai akhirnya satu hembusan angin menyibakkan rambutmu yang hitam dari keningmu. Kau sedang menggambar sesuatu saat itu. Aku tidak tahu apa yang kau gambar, tapi dari raut wajahmu aku tahu bahwa gambar itu begitu penting untukmu. Bahkan daun daun yang jatuh pun kau abaikan. Suara suara bising dan serangga serangga yang mengganggu tak mengusikmu sama sekali.
Tatapan wajahmu begitu tajam dan penuh dengan kebahagiaan. Aku tahu itu. Meski aku hanya melihatnya dari kejauhan dan kau sedang begitu sibuk dengan gambarmu.
Kau tahu tidak? Aku mulai mencintaimu sejak saat itu. Aku mencintaimu dari tatap wajahmu yang penuh dengan cerita. Meski saat itu hanya ujung matamu saja yang dapat ku lihat.
Hari berikutnya, aku mulai tak sabar untuk menemuimu di tempat yang sama. Dan benar saja, aku menemukanmu kembali di tempat yang sama. Dengan kertas yang masih putih, kau mulai menggambar kembali. Dan lagi lagi kau tak terusik sama sekali.
Kali ini aku mencintaimu lewat kesetiaan dan kesungguhanmu. Kau begitu menarik perhatianku. Saat aku pulang, aku tidak mau sedikit pun memori tentangmu terbuang begitu saja. Kutulis kau dalam berbagai sajak dan tulisan. Kutulis kau dalam benak dan impian.
Ada rasa yang tak biasa. Aku terus merindukanmu meski aku belum sedikit pun mengenalmu. Tapi bayangan dari setiap pertemuan kita, tak ada sedikit pun yang hilang dan tak ku biarkan hilang. Hari hari kemudian kuhabiskan waktu dengan cara yang sama. Setiap kali aku merasa bosan, aku pergi ke taman itu. Dan aku selalu bisa menemukanmu disana.
Suatu kali aku melihatmu begitu murung. Kau hanya menatapi lembar kertas yang kosong. Dan entah, aku merasakan hal yang sama. Aku pun merasa kosong. Kau begitu misterius untukku. Dan hal itu mendorongku untuk berani mendekatimu. Aku berjalan perlahan menujumu. Berusaha memenangkan ego dari rasa raguku. Dan saat aku berdiri dihadapanmu, disaat aku memenangkan ego itu, kau menatapku. Tak banyak yang kulakukan selain tersenyum. Berusaha menenangkan diri setelah melihat tatapan matamu yang sebenarnya. Benar benar menikam dan tajam. Kau membalas senyumku. Saat itu dalam hatiku hanya ada kau dan senyummu yang seperti bom atom. Meluluhlantakkan segalanya.
Setelah aku tenang, aku berikan tanganku dan mengucapkan namaku. Kau membalasnya tanpa ragu dan mengatakan,
'Aku hanya bagian dari daun daun yang jatuh. Terimakasih kau telah melihat dan menemukanku diantara daun daun gugur lainnya.'
Kau tak mengucapkan namamu. Kau langsung tertunduk. Sibuk mencari kertas kertas yang sudah kau gambar selama ini. Aku memperhatikanmu. Aku memicingkan mataku. Menyelidik setiap detail gambar satu persatu. Kau menggambar gambar yang sama. Sebuah sketsa seorang wanita. Aku selidik lebih dalam.
'Seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya', kataku dalam hatiku.
Rasa ingin tahuku terhenti, saat kau mengejutkanku dengan sebuah gambar tepat di depan wajahku sambil berkata,
'Sekarang aku tahu, siapa nama orang di gambar ini'.
Aku diam. Tak banyak yang ku lakukan.
'Siapa sebenarnya dia?'
Aku terus mempertanyakannya dalam hati.
Kau menarikku lembut, lalu mendudukanku tepat di sampingmu. Aku masih diam, tetapi aku masih bisa mendengarkanmu berbicara. Kemudian aku terkejut kembali saat kau mengajukan sebuah pertanyaan.
'Kau mau dengar sebuah cerita?'
Aku hanya diam mendengarkan semua ceritamu. Aku semakin tertegun kala kau mengatakan,
'Aku mencintaimu dari sebuah sajak yang kau tulis pada sebuah daun. Aku menemukannya di bangku tempat biasa kau duduk. Aku tak ingin melewatkan setiap detik tanpa merindukamu. Beberapa hari ini kau tidak datang ke taman. Aku bagai kehilangan inspirasi untuk ku gambar. Hanya ada wajahmu dalam benakku. Hanya kamu.'
Kau tiba tiba diam. Kau menoleh padaku. Tapi aku hanya diam. Berusaha memahami semua yang kau katakan. Berusaha menenangkan diri dari rasa eufori yang tinggi. Kau melanjutkan ceritamu sambil menerawang.
'Bolehkah aku mencintaimu mulai saat ini? Bolehkan ku minta kau sebagai yang selamanya? Jika ya, biarkan aku mengenalmu dan mengatakan keinginanku pada bapakmu. Bolehkah? '
Aku menatapnya. Memberikan senyum simpulku yang telah lama hilang.
'Ya tentu', jawabku dalam hati.
Dan senyum itu ku akhiri dengan mengatakan,
'Temui bapakku. Kau akan tahu jawabannya'.
Sore itu kita habiskan waktu bersama guguran daun daun. Seolah semesta merestui keinginan yang ada dalam benak kita.
Hari demi hari berlalu. Tahun demi tahun kita habiskan bersama. Kita habiskan waktu waktu terbaik kita dengan menyaksikan setiap guguran daun daun dari pohon tempat kita pertama bertemu. Yang dari daunnya mengantarkanku padamu. Yang dari daunnya mengantarkanmu padaku.
Kemudian ku saksikan rambutmu mulai memutih. Kulitmu mulai mengkerut. Anak anak kita sudah memberikan cucu cucu yang manis untuk kita. Tiada yang ku syukuri sayang, selain tahunan waktu yang kuhabiskan untuk selalu bersamamu. Menyebut namamu dalam setiap nafas dan doaku. Mendampingimu sampai hari ini. Hari dimana namamu hanya ada dalam nisan dan kenanganku.
-Tamat-
Saat itu aku sedang memandangi awan sambil duduk di atas sebuah kursi batu. Daun daun mulai gugur, menandakan musim gugur akan segera tiba. Hembusan angin yang cukup kuat, telah menjatuhkan sehelai daun tepat di pundakku. Menuntaskan lamunan tentang harapan dan masa depan. Aku menengok, mencari dari pohon mana daun itu berasal. Angin mengarahkanku pada sebuah pohon yang rimbun. Dan kau diam diatas rumput dibawahnya.
Aku memperhatikanmu diam diam. Aku berusaha menatapmu lekat lekat. Sampai akhirnya satu hembusan angin menyibakkan rambutmu yang hitam dari keningmu. Kau sedang menggambar sesuatu saat itu. Aku tidak tahu apa yang kau gambar, tapi dari raut wajahmu aku tahu bahwa gambar itu begitu penting untukmu. Bahkan daun daun yang jatuh pun kau abaikan. Suara suara bising dan serangga serangga yang mengganggu tak mengusikmu sama sekali.
Tatapan wajahmu begitu tajam dan penuh dengan kebahagiaan. Aku tahu itu. Meski aku hanya melihatnya dari kejauhan dan kau sedang begitu sibuk dengan gambarmu.
Kau tahu tidak? Aku mulai mencintaimu sejak saat itu. Aku mencintaimu dari tatap wajahmu yang penuh dengan cerita. Meski saat itu hanya ujung matamu saja yang dapat ku lihat.
Hari berikutnya, aku mulai tak sabar untuk menemuimu di tempat yang sama. Dan benar saja, aku menemukanmu kembali di tempat yang sama. Dengan kertas yang masih putih, kau mulai menggambar kembali. Dan lagi lagi kau tak terusik sama sekali.
Kali ini aku mencintaimu lewat kesetiaan dan kesungguhanmu. Kau begitu menarik perhatianku. Saat aku pulang, aku tidak mau sedikit pun memori tentangmu terbuang begitu saja. Kutulis kau dalam berbagai sajak dan tulisan. Kutulis kau dalam benak dan impian.
Ada rasa yang tak biasa. Aku terus merindukanmu meski aku belum sedikit pun mengenalmu. Tapi bayangan dari setiap pertemuan kita, tak ada sedikit pun yang hilang dan tak ku biarkan hilang. Hari hari kemudian kuhabiskan waktu dengan cara yang sama. Setiap kali aku merasa bosan, aku pergi ke taman itu. Dan aku selalu bisa menemukanmu disana.
Suatu kali aku melihatmu begitu murung. Kau hanya menatapi lembar kertas yang kosong. Dan entah, aku merasakan hal yang sama. Aku pun merasa kosong. Kau begitu misterius untukku. Dan hal itu mendorongku untuk berani mendekatimu. Aku berjalan perlahan menujumu. Berusaha memenangkan ego dari rasa raguku. Dan saat aku berdiri dihadapanmu, disaat aku memenangkan ego itu, kau menatapku. Tak banyak yang kulakukan selain tersenyum. Berusaha menenangkan diri setelah melihat tatapan matamu yang sebenarnya. Benar benar menikam dan tajam. Kau membalas senyumku. Saat itu dalam hatiku hanya ada kau dan senyummu yang seperti bom atom. Meluluhlantakkan segalanya.
Setelah aku tenang, aku berikan tanganku dan mengucapkan namaku. Kau membalasnya tanpa ragu dan mengatakan,
'Aku hanya bagian dari daun daun yang jatuh. Terimakasih kau telah melihat dan menemukanku diantara daun daun gugur lainnya.'
Kau tak mengucapkan namamu. Kau langsung tertunduk. Sibuk mencari kertas kertas yang sudah kau gambar selama ini. Aku memperhatikanmu. Aku memicingkan mataku. Menyelidik setiap detail gambar satu persatu. Kau menggambar gambar yang sama. Sebuah sketsa seorang wanita. Aku selidik lebih dalam.
'Seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya', kataku dalam hatiku.
Rasa ingin tahuku terhenti, saat kau mengejutkanku dengan sebuah gambar tepat di depan wajahku sambil berkata,
'Sekarang aku tahu, siapa nama orang di gambar ini'.
Aku diam. Tak banyak yang ku lakukan.
'Siapa sebenarnya dia?'
Aku terus mempertanyakannya dalam hati.
Kau menarikku lembut, lalu mendudukanku tepat di sampingmu. Aku masih diam, tetapi aku masih bisa mendengarkanmu berbicara. Kemudian aku terkejut kembali saat kau mengajukan sebuah pertanyaan.
'Kau mau dengar sebuah cerita?'
Aku hanya diam mendengarkan semua ceritamu. Aku semakin tertegun kala kau mengatakan,
'Aku mencintaimu dari sebuah sajak yang kau tulis pada sebuah daun. Aku menemukannya di bangku tempat biasa kau duduk. Aku tak ingin melewatkan setiap detik tanpa merindukamu. Beberapa hari ini kau tidak datang ke taman. Aku bagai kehilangan inspirasi untuk ku gambar. Hanya ada wajahmu dalam benakku. Hanya kamu.'
Kau tiba tiba diam. Kau menoleh padaku. Tapi aku hanya diam. Berusaha memahami semua yang kau katakan. Berusaha menenangkan diri dari rasa eufori yang tinggi. Kau melanjutkan ceritamu sambil menerawang.
'Bolehkah aku mencintaimu mulai saat ini? Bolehkan ku minta kau sebagai yang selamanya? Jika ya, biarkan aku mengenalmu dan mengatakan keinginanku pada bapakmu. Bolehkah? '
Aku menatapnya. Memberikan senyum simpulku yang telah lama hilang.
'Ya tentu', jawabku dalam hati.
Dan senyum itu ku akhiri dengan mengatakan,
'Temui bapakku. Kau akan tahu jawabannya'.
Sore itu kita habiskan waktu bersama guguran daun daun. Seolah semesta merestui keinginan yang ada dalam benak kita.
Hari demi hari berlalu. Tahun demi tahun kita habiskan bersama. Kita habiskan waktu waktu terbaik kita dengan menyaksikan setiap guguran daun daun dari pohon tempat kita pertama bertemu. Yang dari daunnya mengantarkanku padamu. Yang dari daunnya mengantarkanmu padaku.
Kemudian ku saksikan rambutmu mulai memutih. Kulitmu mulai mengkerut. Anak anak kita sudah memberikan cucu cucu yang manis untuk kita. Tiada yang ku syukuri sayang, selain tahunan waktu yang kuhabiskan untuk selalu bersamamu. Menyebut namamu dalam setiap nafas dan doaku. Mendampingimu sampai hari ini. Hari dimana namamu hanya ada dalam nisan dan kenanganku.
-Tamat-