Hai, semoga kau punya
cukup waktu untuk membaca suratku.
Apa kabar?
Apakah kau merindukanku
seperti aku merindukanmu disini?
Apakah kau menangis juga
saat merindukanku seperti saat aku merindukanmu?
Sayang, sebentar lagi aku
ulangtahun.ulangtahun pertama ku tanpamu (lagi).
Ulang tahun terakhirku
tanpamu adalah saat kau belum terlahir.
Sayang. Sesungguhnya
banyak yang ingin ku ceritakan padamu.
Aku masih merasa
terbebani.
Jika kau disini, mungkin
saja aku bisa membaginya denganmu.
Sayang, tolong hapuskan
airmataku.
Tanganku tidak cukup
untuk menghapus semuanya.
Sayang, angka 20 ini
harus ku bayar mahal.
Aku harus kehilanganmu,
kehilangan dia yang tentu kau tahu.
Terlebih dengan keputusan
ayah yang aku rasa menjadi beban untukku.
Aku merasa langit seakan
rubuh diatasku.
Aku merasa semua mimpiku
hilang.
Sayang. Aku mengeluh lagi
ya?
Aku pun tak tahu mengapa
aku melakukan itu.
Padahal aku sudah
berusaha untuk merelakanmu.
Sayang, ingatkah sewaktu
kita bermain ke Jakarta bersama keluarga yang utuh untuk terakhir kalinya?
Kita mengalami kecelakaan
dan aku menjadi korban tunggal atas kejadian itu.
Tapi kita bisa
melewatinya karena saat itulah kita bersama.
Aku merasa tubuhku hilang
setengahnya.
Ayah dan ibu tak cukup
bagiku.
Aku merasa begitu dekat denganmu
pada saat saat terakhirmu.
Kau adalah seseorang yang
sangat berarti saat itu.
Mungkin Tuhan hendak
menamparku berulang kali agar aku melihat kearahNya.
Aku sudah terlalu banyak
mengabaikanmu.
Mengabaikan ayah.
Mengabaikan ibu.
Mengabaikan orang orang
yang menyayangiku demi orang yang kusayangi semata agar aku tidak kesepian.
Ingat kata kata ibu jika
kita sedang bertengkar?
“kalian harus kompak dan
saling menjaga, jika tak ada ayah dan ibu, kalian hanya berdua”
Saat ini aku selalu
berfikir, jika memang yang dikatakannya akan terjadi, aku dengan siapa?
Jika tak ada mereka, aku
dengan siapa?
Jika tak ada engkau, aku
dengan siapa?
Tuhan memang memberiku
banyak orang, tapi tak ada yang bisa menjamin masa depanku selain kau.
Aku sudah terlalu banyak
kehilangan.
Aku tahu, kerumitan ini
diciptakan semata hanya untuk membuatnya bermakna.
Sayang, senyummu masih
mengecupku disini.
Ada senyum mereka.
Ada senyum ayah.
Ada senyum ibu.
Tapi aku terlalu lemah.
Entah, aku begitu sangat
merindukanmu.
Itu saja.
Sayang. Aku tahu aku terlalu
banyak mengeluh.
Tapi ini masih aku.
Entah kau masih
mengenalinya atau tidak.
Tetapi yang pasti,
serpihan cinta ini akan ku kembalikan padamu.
Saat kita bertemu nanti
disana.
Bersama dalam kebadian
dan cinta.
Baik baik kau disana,
tunggu aku dengan senyuman terindahmu yang kurindukan.
Salam rindu dan sayang.
-Kakak-
Menjelang 20
Gubuk kenangan
20.03
17 oktober 2011
Dengan tangis yang menggumpal dihati