sapa

ada sapa dalam setiap temu, meski akhir tak selalu bertemu rindu

23.5.13

suara hati


tidak pernah merasa sepilu ini.ketika mengingat pertanyaan seorang siswa yang tidak bisa ku jawab.
"ibu.bagaimana suara dewi?beda?"
aku hanya bisa diam dan menjawab dengan hati teriris iris
"ya" kataku
"bagaimana suaranya?"
aku diam lebih lama dari sebelumnya.sungguh.aku tidak bisa menjawab pertanyaan ini.aku hanya bisa mengeluarkan airmata diujung mataku.
"apa suaranya tinggi?"
"iya tinggi.suara rio lebih rendah"
"oh iya.terimakasih bu"
sungguh.aku tidak kuasa meneruskan perbincangan.aku hanya berbalik dan berkaca kaca.mencoba tabah dihadapan siswa yang lainnya.
dan sungguh.aku merasa menjadi manusia yang paling tidak berguna.menjelaskan bunyi dan suara pun aku tak bisa.
tapi.aku merasa sangat beruntung.aku diberi kesempurnaan untuk bisa mendengar.
nak.dalam hatiku, aku berjanji akan mengenalkan lebih banyak suara sebisaku,mengenalkan lagi lebih banyak bunyi untukmu.karena, aku ada di sini untuk itu.dan mungkin.hanya itu yang bisa kulakukan.

13.5.13

Tentang Kesederhanaan


Percakapan malam ini dengan seorang temanku yang bernama Ulin. Nama yang tak asing untuk seorang berdarah Sunda. Tapi namanya bukan berarti 'main' seperti dalam bahasa sunda,katanya namanya diambil dari bahasa arab yang alu lupa apa artinya. Oke. Bukan disitu point ceritanya. 
Saat aku sedang mejeng di Facebook,aku memulai percakapan dengannya. Ya hanya sekedar say hallo dan basa basi. Sampai akhirnya dia berkata sesuatu "mi bikinin puisi. yg mengilustrasikan sebuah benda (alat-alat kebersihan.kudu berima, bermajas" "jang naon?" kataku. "tugas adi urg.3 bait trus 1 majas personifikasi 2 majas perumpamaan". "kalem ya.mikir dulu" balasku. Entah apa yang ada dipikiranku. Saat itu aku berpikir. Ah.yang begini mah gak susah susah amat. "oke mi.ku aing tunggu sampe 5 menit kedepan.besok dikumpulin.haha.kamu harapan kita 1 1 nya". Waduh 5 menit pikirku. Tapi aku pun sudah berpikir kalau itu memang waktu yang tidak mungkin. Ah, aku jalani saja sambil berpikir. Kemudian aku bertanya "3 bait doang nih?". Karena asumsiku, akan lebih sulit membuat sesuatu yang dipatok namun begitu singkat. Dan ternyata asumsi Ulin berbeda. "jir.sia edan dong.jagoan gitu.3 bait kaya yg mudah banget". Padahal maksudku ya aku biasa membuat yang bertele tele.
Tidak lama aku kebingungan, majas perumpamaan? Rima? Ah. Ternyata ingatanku tidak sampai sana. Sambil menegrjakan dan berpikir, aku buka laman - laman yang membahas tentang majas dan rima. Ah. Selesai maka ku kirim pada Ulin. 
"sapu bercerita padaku
: katanya lantai ini bagaikan berlian dalam rimbaku
laksana terserok dalam langkah yang terhapus jejak lamaku"
Tapi ternyata "lain.misal , aku setiap hari selalu dipake oleh majikannku untuk membersihkan debu debu yang ada di lantai aku mempunyai banyak rambut , dan aku mempunyai teman yang selalu menemaniku yang biasanya membawa debu-debu kotor itu (serok).cek adi urg kieu mi.hampura loba pamenta". Tapi yang ada dipikiranku. Ah itu sih bisa lebih mudah. Dan nyatanya, aku mengerjakan itu lebih lama dari yang sebelumnya. Ya. karena menurutku itu terlalu sederhana. Intinya aku menyepelekan. Tapi aku sendiri tidak bisa berbuat apa apa.
Selesai. Kukirim kembali perintaanya yang kedua.
"aku selalu dibawa menari pada setiap sudut rumah oleh pemilikku
aku selalu bersemangat bagai baja jka melihat debu debu
jemariku seumpama tentakel yang menyedot seluruh debu itu"
3 bait. Bait pertama hingga akhir adalah personifikasi. 2 bait lainnya addalah perumpamaan. Selesai kataku dalam hati. Kemudian ku tambahkan "kitu lain?bejakeun kitu ka guruna.tong membatasi kreatifitas siswa..bo teuing hayang na kumaha.ieu mah di patok kudu kitu kieu na.atuh jangar nuturkeun jayang guru..heu". Karen akau merasa kreativitasku dibatasi dengan memberiakn aturan harus begini begitu. Sedangkan sajak atau puisi bagiku tidak bisa dipaksakan.Itu akan keluar dengan sendirinya. Kemudian "tp 3 bait" katanya. Aku mengumpat lagi. Bukankah itu sudah 3 bait? "eta teh 3 baiiittt" "3 paragraf maksudna mi". Damn, aku benar - benar lupa. Kalau yang ku buat itu bukan 3 bait. Tapi hanya 3 baris. Pantas saja ku pikir itu terlalu mudah. Jadilah aku mengumpat diriku sendiri. "eh.baris nya eta mah.halaahhh.hanas di awet awet eta kalimat na." Tapi ya sudahlah. Aku berpikir lagi. Kurasa akan lebih mudah pikirku. Karena yang awalnya terbatas. Aku sekarang bisa lebih mengeksplore tulisanku.
Ternyata tidak semudah yang aku duga. Membuat sesuatu yang sederhana pun aku tidak bisa. Aku terbiasa menulis sesuatu yang sederhana menurutku. Tapi sebenarnya bagi sebagian orang, itu terlalu berat dan terlalu sastra. Padahal tidak bagiku. Baguku tulisan tulisanku tidak sebagus yang orang lain punya. Aku hanya menuliskan apa yang ada di dalam sini. Agar aku bisa mengingatnya dan membaginya pada yang lain. Setelah berkeringat panjang karena tidak mampu menuliskan apa - apa lagi. Pekerjaanku yang ketiga ini menjadi lebih mudah. Kaena seperti biasanya, aku hanya perlu banyak menulis. Itu saja. Sampai akhirnya,
"aku ada dimanapun sesuka hatiku 
aku selalu dibawa menari pada setiap sudut rumah oleh pemilikku
membersihkan setiap debu bengal yang ada disekelilingku
meskipun lelah aku ceria selalu
semangatku bagai baja jika melihat debu debu
aku lahap habis apapun yang ada dihadapanku
besar kecil tidak soal bagiku
yang terpenting rumah bersih selalu
jemariku seumpama tentakel yang menyedot seluruh debu itu
berlari kesana kemari tak kenal waktu
kemudian ku beri pada temanku
tempat sampah teman setiaku"
Baiklah. Tuagsku selesai. Aku tidak terlalu puas. Tapi untuk Ulin ini sudah lebih dari cukup. "tami emg lah maneh.ga sia sia ku urg di pajang di status fb.hahahaha" "mugi katampi" "nuhunn.urg nu katampi mi" Syukurlah.
Dari yang alami hanya dengan beberapa menit ini aku sadar. Ternyata sesuatu yang kita pikir sederhana itu bisa saja kita anggap rumit jika kita tidak siap. Lagi - lagi sederhana yang harus ku pelajari.


Bandung, 13 MEI 2013
merenung dalam kesederhanaan

Perjalanan Sederhana













Perjalanan tidak selamanya harus direncanakan. Seperti yang tergambar dalam foto - foto ini. Diambil di sekitar aliran Sungai Cimahi (katanya) pada tanggal 5 Desember 2009. Saya dan 3 orang lainnya yaitu Hadi, Satria, dan Reza sedang melakukan Pra Diklatsar GEPALA yang ke XXVIII. Tidak banyak planing kami saat itu. Saya dan Hadi sebagai panitia hanya berencana untuk mengajak Satria dan Reza untuk bermain di Curug Layung. Ya sekedar refreshing karena waktu - waktu di sekolah terasa begitu menjenuhkan.
Saya tidak ingat berapa lama waktu tempuh kearah sana. Karena saya pun baru pertama kali saat itu. Kami hanya berjalan mengikuti suara sungai dan feeling. Bahaya sih sebenarnya. Tapi karena kita tidak mau terlihat 'tidak tahu apa - apa' oleh si junior,maka segala resiko akan kami hadapi.
Beruntung kita bisa menemukan tempat tersebut. Jauh dari bayangan sebenarnya. Saya berasumsi bahwa di tempat tersebut terdapat curug yang benar - benar menjulang. Tapi yang saya temukan hanya aliran sungai. Entah benar atau tidak, tapi saya sangat menikmati pemandangan yang ada disana. Serasa tempat tersebut memang Tuhan ciptakan hanya untuk kita.
Karena sudah mencapai taget, maka kami menghabiskan waktu disana. Sampai akhirnya sekelompok orang yang tidak tahu dari mana rimbanya datang menghampiri kami. Hanya sekedar bertegur sapa, saya, Satria, dan Reza meneruskan kembali bermain air. Sedangkan Hadi dengan ilmu sosial nya yang tinggi (meski terkadang orang lain tidak tahu apa yang dibicarakannya) berbincang dengan beberapa diantara mereka. Mungkin SKSD pikirku. Taka lama Hadi menghapiri kami dan mengatakan bahwa diantara mereka, ia mengenalnya. Dan kelompok orang - orang itu mengajak kami untuk bergabung. Karena tidak ada rencana lain dan pengalaman yang didapat oleh Satria dan Reza hanya sedikit jika tidak ikut. Maka saya putuskan untuk bergabung bersama mereka.
Sambil berjalan akhirnya diketahui bahwa orang - orang tersebut adalah Mahasiswa Jurusan Geografi UPI yang sedang melakukan pembelajaran di lapangan dengan menyusuri Sungai Cimahi. Ternyata satu kandang  pikirku. Sambil berjalan orang yang lebih 'senior' diantara mereka menjelaskan kondisi geografi yang mereka temukan diperjalanan. Tapi karena saya kurang tertarik dengan yang dijelaskan, maka saya dan teman yang lain memilih untuk ber'narsis' ria. Karena tempat seindah ini sayang sekali di lewatkan. Mungkin jika tidak bertemu dengan mereka, saya tidak akan pernah tahu bahwa disekeliling kita sebenarnya banyak sekali yang belum terjamah.
Kami mengikuti selangkah demi selangkah perjalanan mereka. Melewati kebun teh, curug demi curug, sungai demi sungai. Sampai pada akhirnya kami sampai di sebuah tempat. Tempat yang menurut saya punya kenangan yang sanagt dalam. Bagaimana tidak, saat Diklatsar GEPALA kami dibariskan disana dan dibacakan tata tertib untuk diikuti selama Diklatsar. Dan disanalah awal perjalanan saya di GEPALA yang sampai hari ini masih juga saya jalani.
Lelah,puas,bahagia,rindu, semua rasa bercampur saat itu. Tempat sederhana yang begitu menakjubkan ternyata berada disekeliling kita. Tanpa harus kita cari mereka ada di dekat kita. Hanya saja kita harus cukup tahu diri untuk lebih dekat mengganggu mereka.
Dan saat ini. Yang ingin saya ucapkan hanyalah terimakasih. Kepada Tuhan, teman - teman, kelompok Mahasiswa Geografi UPI, dan tentu saja GEPALA yang telah memberi saya kesempatan menemukan hal - hal luar biasa dalam perjalanan yang begitu sederhana. Ternyata meskipun kita menjalani sesuatu tanpa rencana, asalkan kita menikmati, kita akan bisa melewatinya.


Bandung, 13 Mei 2013
tirta angan

3.5.13

numpang lewat

merasa menjadi penghianat.tapi jika tidak begini semua tidak akan berhasil.terkadang bingung juga menjadi kepercayaan orang orang.karena terkadang, satu sama lainnya saling membicarakan.aku jalani saja sebisaku.sudah ku katakan.aku hanya ingin menjadi orang baik.

tapi.kupikir menjadi orang baik itu mudah.tapi tidak.
masih ada rasa dengki dan ego yang tercampur didalamnya.selalu merasa ingin serba tahu.padahal sebenarnya tahu pun untuk apa?
terkadang aku terpikir.seperti apa nanti aku dikenang.bukan untuk pemrih.hanya saja aku ingin tahu.apakah banyak yang gembira atau bersedih dengan kepergianku.

kembali lagi menjadi orang baik.terkadang sulit memiliah hati untuk memilih,mana yang baik untuk dibicarakan,mana juga yang tidak.maka dari itu aku lebih sering memilih untuk diam dan mendengarkan.
sepertinya bagi mereka.itu pun sudah cukup.karena aku tidak cukup pintar untuk memberi solusi.tak jarang orang yang sedang bercerita pun menertawakan karena solusi yang ku berikan hanyalah bualan basi.maka,aku pilih untuk diam dan mendengarkan.


selama aku bisa.selama aku mampu.aku akan berusaha menjadi orang baik.
entah bagaimana penerimaan orang lain terhadap sikap itu.
niatku baik.meskipun terkadang caraku tak selamanya baik.
karena baik untuk siapa,baik menurut siapa,aku pun tak tahu.dan sedikit tak peduli.
aku hanya ingin menjadi orang baik.bagaimana pun cara dan penerimaannya.

1.5.13

kepada seseorang


untuk kali ini izinkan aku berbicara.
aku akan mengatakan sesuatu tentang rasa.
pernahkah seseorang merasa takut pada sebuah rasa?
padahal kita semua tahu bahwa takut itu adalah rasa.
tapi ini lain.kamu merasa takut pada apa yang kamu rasa.
kamu takut merasa takut.kamu takut merasa sedih.terlebih kamu takut merasakan rasa cinta.
ya rasa.
sebuah getaran yang Tuhan ciptakan untuk membuat manusia berhubungan satu sama lainnya.
dan kali ini aku akan bercerita.tentang ketakutanku pada sebuah rasa.

cinta.
aku yakin semua orang sangat menginginkan perasaan ini.
perasaan yang dipenuhi energi positif yang dapat menimbulkan efek bahagia.
tapi tidak denganku.
sejak lama aku takut pada sebuah rasa.dan rasa itu adalah cinta.
aku selalu takut saat mulai menyukai seseorang,dan kemudian rasa itu timbul menjadi sebuah cinta.
sampai hari ini,aku masih merasakannya.
aku takut jika suatu hari aku akan kehilangan.aku takut jika cinta yang ku maksud ternyata sebuah perasaan yang salah.aku takut ayah dan ibu akan marah.semua rasa takut itu berkecambuk dalam sukma.


ketika aku mulai tertarik pada seseorang.aku merasakan bahwa rasa itu lah yang ingin ku miliki.dan berharap rasa tersebut dimiliki juga oleh orang yang ku maksud.
tapi nyatanya.saat rasa itu timbul pada orang tersebut.aku merasa takut.aku takut akulah yang mempengaruhi rasa itu.aku takut bila akhirnya aku tersakiti.aku takut bila akhirnya aku yang menyakiti.

beberapa orang pernah mengatakan padaku bahwa mereka menyukaiku.atau hanya mengagumiku.tapi aku tidak seperti wanita lain yang akan merasa senang diperlakukan seperti itu.sebaliknya.aku takut.
orang orang itu tidak menyadari bahwa sebenarnya aku telah menerima sinyal itu sejak lama.tapi aku memilih untuk bersikap biasa.karena apa?aku takut berlebihan dan kemudian menyakitinya.

dan untukmu Tuan.
kamu pernah mengatakan itu padaku.tepat saat kau menemukan dia.kau bercerita dengan penuh bersemangat bahwa kau menemukan wanita yang tepat.tahukah?saat itu aku merasa tenang dan bahagia.entahlah.tapi itu yang ku rasakan.dan kemudian lama kita tak berjumpa.kau kembali datang menemuiku saat kau sedang di rundung masalah.tahukah?aku selalu merasa takut jika permasalah itu berawal dari ku.mungkin aku terlalu percaya diri.tapi itu yang ku rasakan.maaf jika terlalu lancang ku bicarakan.dan sampai saat ini, aku masih meneguhkan hati untuk memilih.untuk menentukan apa yang terbaik untutkku.
bukan aku tak percaya.tapi aku takut,jika sebenarnya rasa ini justru salah.karena aku selama ini menganggapmu sebagai seseorang yang lain.seorang kakak yang menegur adiknya ketika salah.seorang kawan yang selalu hadir saat sedang senang mau pun bersedih.dan sebagai seseorang lain yang entah harus ku namakan apa.

sampai saat ini.aku belum mau menentukkan pilihan.siapapun itu.karena aku madih merasa takut.itu yang nyatanya terjadi padaku.

maaf Tuan.
dan inilah jawabanku.silahkan kau simpulkan.
dan satu hal yang harus kau ingat.aku tidak ingin membuat siapapun tersakiti.



bandung,  1 mei 2013
13.24
kalut dan takut