sapa

ada sapa dalam setiap temu, meski akhir tak selalu bertemu rindu

7.11.20

Di Balik Tirai Pandemi

Pahlawan sering kali identik dengan para pelaku kebajikan di masa peperangan. Banyak nama yang bisa disebutkan saat terlintas kata pahlawan. Sebut saja para Pahlawan Nasional seperti A.H. Nasution, Bung Tomo, Kartini, Dewi Sartika dan masih banyak nama lainnya dari berbagai tempat di Nusantara. Selain para pahlawan nasional, kita juga mengenal pahlawan super. Meskipun pahlawan yang satu ini lebih dekat dengan dunia imajinasi para penulisnya, namun pahlawan dari kelompok ini juga memiliki banyak penggemar. Tidak perlu jauh merujuk para pahlawan super di mancanegara besutan Marvel atau DC, Indonesia pun memiliki pahlawan supernya sendiri. Ada Saras 008 dan Panji Manusia Milenium pada masanya, serta yang baru saja santer, Gundala Putra Petir, Sri Asih dan masih banyak lainnya.

Masing-masing masa memiliki sosok pahlawan tersendiri. Dewasa ini, pahlawan sudah jarang disematkan hanya pada tokoh besar tertentu yang terlihat begitu besar dampak dari kebajikannya, namun pahlawan kini begitu dekat dengan banyak sosok yang berada di lingkungkan sekitar. Para local hero dan unsung hero kini mulai banyak bermunculan. Banyak kebajikan yang dilakukan meskipun hal kecil namun berdampak luas.

Tahun 2020 banyak hal baru yang terjadi. Munculnya sebuah virus yang bernama Corona Virus menjadi momok bagi hampir seluruh dunia. Penyakit Covid-19 terbentuk dari sebaran Corona Virus yang baru muncul pada akhir tahun 2019 di Wuhan, Tiongkok dan menyebar ke seluruh dunia pada awal tahun 2020 hingga saat ini. Banyak perubahan bagi kehidupan manusia yang terdampak virus ini. Pandemi yang terjadi di hampir seluruh dunia ini kemudian memunculkan banyak pahlawan-pahlawan yang siap menjadi garda terdepan untuk memerangi virus tersebut. Salah satunya adalah tenaga medis yang menjadi serdadu perang -head to head- dengan virus yang memiliki banyak topeng dan misteri ini.

Diantara banyaknya profesi tenaga medis yang muncul seperti dokter, perawat, bidan, dan sebagainya, profesi Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) justru sangat jarang dikenal oleh masyarakat. Padahal jika dilihat dari bidang profesi yang dilakukannya, tentu profesi ini sangat penting dalam melawan masa pandemi ini. Profesi ini berkerja mengambil sample darah, membawanya ke laboratorium untuk di analisis, dan diserahkan kepada Dokter untuk diverifikasi hingga diketahui berbagai penyakit. Tidak hanya sample darah, para ATLM ini juga menganalisis berbagai bakteri atau virus yang ada di tubuh manusia melalui dahak, feses, dan urin. Selain itu, ATLM juga dapat bertugas sebagai tim yang membuat sebuah vaksin untuk mencegah tersebarnya virus. Lagi-lagi di masa pandemi seperti sekarang, profesi ini menempati posisi yang cukup penting untuk meredakan penyebaran yang ada. Besarnya resiko yang dihadapi tidak sebanding dengan eksistensinya di kalangan masyarakat luas. Kebanyakan masyarakat mengetahuinya sebagai perawat atau dokter saja.

Anbarunik Putri Danthin (26) dan Shara Venuuraa (23) adalah dua diantara sosok yang bekerja dalam senyap di kala pandemi ini. Para pemudi ini merupakan kakak beradik yang berprofesi sebagai ATLM yang langsung menangani Covid-19. Anbarunik bekerja di sebuah PUSKESMAS di salah satu kawasan di daerah Bandung. PUSKESMAS tentu menjadi tempat yang rawan sebab pasien yang tidak bergejala dan bergejala sakit apapun akan datang pertama kali menuju tempat tersebut. Selain itu, para petugas PUSKEMAS juga menjadi satuan tugas penanganan Covid-19 dengan melakukan trekking pasien dan penjaringan pasien terutama di area perbatasan yang menjadi gerbang masuknya para wisatawan ke dalam dan luar kota. Pada saat hari libur, tidak lantas membuat pekerjaan mereka libur, justru terkadang mendapatkan lembur jika lonjakan kasus meningkat. Belum lagi, menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) setiap hari membuat badan terasa tidak nyaman.

Senada dengan sang kakak, Shara juga menjadi bagian dari Satuan Tugas Provinsi Jawa Barat yang bertugas di Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Jawa Barat. Shara ditugaskan untuk menganalisis sample darah orang yang diduga terpapar Covid-19 dari seluruh kawasan Jawa Barat. Jawa Barat sendiri saat ini menduduki posisi ke 3 dengan 39.138 kasus yang memiliki daerah berzona merah. Shara juga sering kali tidak mengenal hari libur. Saat orang-orang kini mulai sibuk dengan berlibur, Shara dan kakaknya justru harus berjuang turun ke lapangan atau berada di balik jas laboratorium untuk menyaring pasien yang terpapar Covid-19.

Semakin meningkat kasus Covid-19, semakin meningkat pula beban pekerjaan yang harus diemban. Sebagai seorang pahlawan dari kalangan manusia biasa tentu mereka pun sering kali merasa lelah dan geram dengan orang-orang yang terkesan cuek dengan dampak yang disebabkan oleh Corona Virus ini. Bahkan terkadang mental mereka menurun saat mengetahui ada rekan kerjanya yang harus gugur saat sedang bertugas. Berbagai kekhawatiran, seperti ikut terpapar virus Corona dan menyebarkannya kepada keluarga tentu tidak lepas dari benak keduanya. Bekerja dari balik tirai ini membuat status mereka dalam kasus ini pun sebagai orang dengan resiko tinggi terpapar Covid-19 yang mungkin saja terpapar dan menyebarkan kepada siapapun yang mereka temui. Rapid Test dan Swab Test menjadi santapan sehari-hari mereka. Tidak hanya menjadi pengambil sample, keduanya pun turut menjadi orang yang diambil samplenya guna mencegah penyebaran virus di lingkungan keluarga dan sekitarnya. 
           
Keberadaan mereka tentu saja kini tidak bisa diabaikan begitu saja. Rutinitas mereka selama masa pandemi pun menjadi sangat padat dengan sosialisasi, pencegahan, dan langkah penanganan tentang Covid-19. Dampak dari pekerjaan mereka mungkin tidak akan begitu terasa langsung oleh masyarakat di masa pandemi ini. Namun, peran serta mereka untuk ambil bagian dalam "peperangan" ini sangat berdampak pada pencegahan dan penanganan pandemi secara keseluruhan. Pemerintah tidak akan mendapatkan data yang terkonfirmasi terpapar Covid-19 jika mereka tidak melakukan pekerjaannya dengan baik.

Sampai hari ini, para pahlawan muda ini masih menegakkan bahunya agar pandemi ini segera berakhir. Ada banyak Anbarunik dan Shara lainnya di luar sana yang bekerja meskipun tidak banyak yang mengetahuinya. Mereka terus bekerja keras memerangi virus Corona agar situasi dapat kembali kondusif meskipun tidak seperti sedia kala. Para pahlawan tentu tidak bekerja sendirian, mereka memerlukan rekan atau tim yang dapat membantunya memenangi peperangan dan kita dapat ikut ambil bagian dalam posisi tersebut. Cukup dengan keluar rumah hanya saat kondisi darurat, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, selalu menggunakan masker saat keluar rumah, dan menjaga jarak, kita semua dapat membantu meringankan pekerjaan para pahlawan di era pandemi ini.

Mari bersatu! Bersama, tentu kita dapat melewati semua dengan lebih ringan.

Salam hormat dari kami, para pahlawan!

Khutamy Khairunnisa, S.Pd

Bandung

November 2020

 

12.2.19

Helai

          dimabuk ranting-ranting
       seorang pria mengacungkan samurainya
          di ruang segalanya, angka-angka itu menjerit
       bersama akar yang tersabit

                                      terbunuh oleh ego dan nafsu








Januari, 2015

13.11.18

Hujan Semalam

ada yang berbeda dari hujan semalam
rintik yang biasanya mengantarkanku kepada kenang dan luka
seketika berubah menjadi rintik harapan

Kau Tuan Asing
   yang pernah aku asingkan dan tak aku inginkan
namun hujan semalam berbeda
memberiku isyarat tentang keberadaanmu yang lebih lekat dari waktu

jarak yang dulu begitu nyata
kini hanyalah kisah dan dongeng belaka

terima kasih
kau selalu membawa kisah yang tak pernah terduga
dengan sabar kau menggiring kembali rintik hujan dari lautan

kini,
tetaplah menjadi tornado
yang bertiup kencang pada satu pusaran yang sama

atau menjadi angin yang meski perlahan
      namun selalu menemaniku
dari lautan menuju daratan



13 November 2018

10.10.18

Berhentilah

Terkadang aku khawatir. Jika suatu saat kau benar-benar menemukan dirimu dalam tulisan-tulisanku. Menyaksikan bagaimana aku terpuruk setelah kehilanganmu. Menemukan sebenar-benarnya aku yang rapuh. Maka aku telah gagal menyembunyikan segala yang tersisa dalam diri ini.

Terkadang aku khawatir. Jika suatu saat kau benar-benar berkata padaku apa yang aku mau. Sebab, aku tak bisa lagi menyaksikan mata sembab yang aku ciptakan dimatamu karena rasa bersalah. Sedang, aku tahu bahwa akulah si biang masalah.

Jika suatu saat, kau benar-benar ingin melakukan itu, berpura-puralah seperti biasanya. Tetaplah membuat aku hidup dalam kepura-puraanmu. Sebab aku tak lagi bisa membedakan, mana aku dan kepura-puraan.

Jika suatu saat, kau benar-benar ingin mengatakannya, berpura-puralah seperti biasanya. Sebab ketidaktahuan akan tetap membuatmu tetap disini bersamaku.

Waktu telah begitu lama mengikatku padamu. Jauh sebelum aku menyadarinya. Jauh, sebelum jarak telah banyak memudar diantaranya. Aku hanya ingin kau terus hidup bersamamu.

Sekali pun dalam kepura-puraan.

7.9.18

Terima kasih
Kau telah membawaku pergi ketempat yang teduh
Hingga aku dapat berlindung dari sengatan matahari yang mematikkanku

Setidaknya untuk saat ini

Kini adalah kamu
Yang membuat aku menunggu
Untuk dibawa lagi
Ke tempat yang baru
Ke tempat yang tak hanya penuh luka
Tapi juga bahagia

Kini adalah waktu mu
Kini adalah waktu kita

Setidaknya untuk saat ini

16 Mei 2018
9.01 PM
Jika saja saat itu aku masih punya kesempatan, satu detik saja untuk mengatakannya padamu, mungkin semua rasa yang tersisa hingga hari ini akan selesai. Tiada lagi yang harus aku pertanyakan.


Jika saja saat itu kau masih punya kesempatan, satu detik saja untuk mendengarkan apa yang tersisa dariku hingga selesai. Tiada lagi yang harus kau tunggu.

Jika saja, saat itu ada sedikit keberanian.

Kau telah salah, salah menilaiku yang menurutmu penuh keberanian, sedang bertemu denganmu dan mengatakannya akupun tidak mampu.

Aku telah salah, salah dalam menilaimu yang terlalu menaruh kepercayaan padaku, hingga aku besar kepala untuk tidak mengakui kesalahanku.

Kita memang salah


Sudahkah kau memaafkan?
Sudahkan kau meminta maaf?


Sudahkah aku meminta maaf?
Sudahkan aku memaafkan?

Pada kita yang saling menunggu. Menunggu keberanian, hanya untuk sekedar mengatakan......

Maaf.



Tapi sebelum itu semua,



Sudahkah kita memafkan ...


diri kita sendiri?



1 Agustus 2018
4.35 PM

Elegi



hujan yang menggerimis malam itu
mengantarkanku pada luka
yang telah mengerak sejak lama

hujan yang menderas pagi itu
mengantarkanku pada duka
yang telah membasuh airmata

air terakhir telah jatuh
menetes perlahan
terseret arus zaman
tergerus asa

aku
tertimbun dalam tanah
yang basah
yang merah

aku tenggelam




pohon yang memancang di ujung tebing itu
menopang harapan
melaju waktu membersamaiku
mengatarkanku pada asa yang baru


aku menguap 
namun angin membawaku kembali
pada Yang Satu
dalam helai daun yang gugur sore itu









7 September 2018