Sewindu,
aku menyembunyikanmu dalam kata-kata
Dalam sebab yang tak kupahami
Dalam sembab yang kemudian aku temui
Secangkir coklat bahkan tak cukup
Menjadi ruang kegelisahan yang menjebak
Dalam sebab yang tak kupahami
Dalam sembab yang kemudian aku temui
Secangkir coklat bahkan tak cukup
Menjadi ruang kegelisahan yang menjebak
Nyatanya kita terlalu berjauhan
Pada rindu juga harap
Pada rindu juga harap
Jika kelak, padamu datang aku yang baru
Masihkah ada yang kau tuangkan pada waktu
saat itu
saat itu
Atau justru, dengan sebab itulah kau pergi
Menyusuri jalan yang menyesatkanku
Membutakanku
Menyusuri jalan yang menyesatkanku
Membutakanku
Setelah kau nina bobokan aku dengan dongeng-dongeng
Yang aku tahu, kau cipta demi membuatku bahagia
Nyatanya,
menjadi sebuah drama baru
Yang tak pernah usai
Meski telah selesai
Yang aku tahu, kau cipta demi membuatku bahagia
Nyatanya,
menjadi sebuah drama baru
Yang tak pernah usai
Meski telah selesai
Bagaimana aku dimatamu sesungguhnya?
Apa tak pernah ada arti dari sewindu yang terlalui?
Atau aku hanya kau anggap sebagai air
yang dengan sengaja jatuh
untuk sekedar menghapuskan air matamu ditengah hujan?
Ataukah aku hanya kau anggap sebagai air
Yang telah menggenang dan mengotori sepatu kesayanganmu?
Ataukah aku hanya kau anggap sebagai air
Yang telah menggenang dan mengotori sepatu kesayanganmu?
Jika kelak, datang padamu aku yang baru
Ketahuilah, bahwa mencarimu adalah hidup bagiku
Ketahuilah, bahwa mencarimu adalah hidup bagiku
Dan hari ini, aku berhenti mencarimu.
Bandung, UPI, Pascasarjana
21 Maret 2018 . 01.10 PM
21 Maret 2018 . 01.10 PM