sapa

ada sapa dalam setiap temu, meski akhir tak selalu bertemu rindu

25.10.16

S(i)apa aku hari ini?

Bismillahirahmanirahim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Lama sekali rasanya tidak berjumpa di halaman ini. Halaman imaji yang aku ciptakan untuk menuangkan semua kegelisahan atau hanya sekedar basa-basi. Aku tidak hilang tenang saja, hanya sedang menyusun banyak ruang harap yang aku susun mulai dari awal.

Hari ini, alhamdulillah, sudah 2 tahun aku berjalan di titian balok yang baru. Jalan yang insyaa Allah lebih lebar dari sebelumnya, sehingga lebih mudah menjalani dan mendalaminya. Banyak orang yang begitu keheranan melihat perubahanku yang menurut mereka terlalu cepat dan tiba-tiba. Seolah ada sesuatu yang berusaha menguasai dan merubah haluanku secara keseluruhan. Atas dasar itu jugalah, hati kemudian tergerak kembali untuk menulis hanya sekedar menyapa dan bercengkrama (lagi).

2 tahun lalu, Alhamdulillah dengan hati yang teguh dan mantap, saya Khutamy Khairunnisa binti Dedi Faryadi memutuskan untuk menanggalkan segala pakaian yang terbuka. Pada hari itu, hari dimana aku melihat ayah hampir menitikkan air mata saat aku meminta restu untuk mengenakan jilbab. Ayah yang sebelumnya tidak pernah mendengar tentang niatku, tentu keheranan dan berusaha meyakinkanku bahwa aku dalam keadaan sadar dan bukan hanya sekedar memakai untuk sebuah momen saja. Aku pada hari itu, hanya menjawab ' Insyaa Allah, mohon do'anya untuk segala ikhtiar dan istiqomah'. Aku ingat, saat itu aku hendak mendaki gunung dan ayah hanya memeluk dan melihat aku sambil berkaca-kaca. 

Bukan hanya ayah, banyak orang yang mempertanyakan tentang kejadian apa yang terjadi pada aku dalam waktu yang singkat. Aku rasa, aku bukan manusia spesial yang tiba-tiba diberi hidayah kemudian berubah. Mungkin pada awalnya, aku sangat menolak dengan ajakan dan paksaan orang-orang disekitar untuk mengenakan jilbab. Aku menolak bukan berarti aku tidak berpikir. Saat sendirian, itulah waktunya aku menumpahkan kegelisahan dan kegundahan tentang bagaimana seharusnya aku. Jika tahu yang sebenarnya, aku tidak melakukan dengan tiba-tiba, tapi penuh pertimbangan. Bahkan saking banyaknya pertimbangan sampai aku memutuskan untuk menjalaninya saja dulu, berpikir kemudian.

Pada saat SMP, aku sebenarnya sudah memiliki niat untuk berjilbab, namun banyak orang yang menyarankan untuk tidak dulu mengenakan. Hingga pada akhirnya, muncullah penolakan yang keras dari diri pribadi untuk tidak menggunakan jilbab sekalipun mereka menjelaskan tentang keadaan terburuk sekalipun. Saat itu yang ada dipikirannku, 'terus kenapa dulu kalian menyarankan untuk tidak?'. Aku sebenarnya bukan benci menggunakan jilbab, aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku bukan orang yang mudah dipengaruhi. Tapi diantara penolakan, aku belajar mempelajari banyak hal mengenai bagaimana sebenarnya menjadi seorang wanita. 

Setelah kepergian adikku, aku menjadi sangat gencar dalam memperbaiki diri. Berada dikondisi terendah memang sulit, namun Alhamdulillah banyak orang disekitar yang mendukung apapun yang aku lakukan. Kehilangan membuatku berpikir bahwa aku tidak pernah memberikan apapun sekalipun itu adalah hal yag baik. Hingga pada akhirnya aku menemukan sebuah kesimpulan 'aku harus menjadi lebih baik. Jika aku berdosa, maka bukan hanya aku yang akan berada ditempat yang buruk, tapi orangtuaku juga terutama ayahku'. Pemikiran sederhana itulah sebenarnya yang mendorongku untuk 'mencari momen' kapan aku akan menggunakan jilbab. Momen tersebut sebenarnya aku pilih karena aku risih jika harus diledek ketika baru saja menggunakan jilbab. Perilaku ku dulu yang cuek dan cenderung tomboy (katanya) membuatku berpikir untuk menggunakan momen tertentu sebagai batu loncatan.

Momen awal yang ada di pikiranku adalah ketika aku melahirkan/ sedang hamil, namun pemikiran itu tidak bertahan lama karena aku berpikir menikah saja belum dan itupun kalau Allah menitip anak pada aku, kalau tidak berarti tidak akan pernah mengenakan?
Akhirnya, pilihan memilih momen melahirkan pun gugur begitu saja.
Momen kedua adalah saat menikah karena aku berpikir bahwa menikah adalah sebuah awal pijakan baru bagi seorang insan dalam menjalani kehidupannya. Namun momen ini gugur ditengah jalan seiring dengan pemikiran 'lalu enak suami kamu dong tidak menanggung dosaku tidak berjilbab. Ayah yang sudah membesarkan kamu hanya kebagian dosanya saja?'. Maka momen tersebut pun aku batalkan.
Momennya kemudian maju menjadi saat wisuda. Kebetulan aku pada saat itu memang tengah menunggu wisuda setelah berhasil melewati sidang yudisium namun entah mengapa momen tersebut  pun akhirnya gugur ditengah jalan.

Lalu bagaimana akhirnya?

Saat 2 tahun yang lalu -sehari sebelumnya- aku sempat merenungi momen-momen tersebut. Saat itu aku sedang menonton sebuah tayangan di televisi dan tiba-tiba tersadar bahwa hari esok adalah Tahun Baru Islam. Seperti mendapat sebuah getaran, aku tiba-tiba berteriak dalam hati dan berkata, 'besok adalah waktu yang tepat. Tidak bisa ditawar, memang Allah sudah membuka jalan bahwa waktu itu adalah besok'

Dan sejak hari itu, beginilah aku adanya. Menjadi orang yang berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Beberapa bulan setelah aku berjilbab, aku belajar dari orang-orang yang aku temui diperantauan. Orang-orang yang kuat pada keteguhan hatinya sekalipun saat menjadi minoritas. Dari sana aku belajar bahwa identitas dari seorang Muslim adalah penting dan aku ingin menjadi bagian dari pada itu. Sepulangnya aku ke rumah, aku memutuskan untuk selalu mengusahakan menggunakan pakaian yang lebih longgar. Mengenakan rok, buat seseorang seperti aku memang pasti aneh jika dilihat orang yang biasa bersamaku, tetapi justru disaat itulah aku merasa nyaman terhadap apapun yang aku kenakan.

Tahun selanjutnya aku berada di perantauan kembali. Bersama dengan seseorang yang juga sedang belajar untuk menjadi wanita yang lebih baik. Dari dia kemudian aku belajar banyak hal, dan sepulangnya aku dari sana, aku berusaha untuk memanjangkan jilbabku. Walaupun dalam hal ini, seperti juga halnya memakai rok ada beberapa kondisi yang membuat aku belum istiqomah.

Hari ini, jika aku berdiri di hadapan kalian sebagai seseorang yang berbeda atau mungkin seseorang yang baru, itulah aku hari ini. Aku yang masih terus belajar untuk menjadi wanita yang lebih baik.
Hari ini, jika yang kalian lihat adalah aku yang baru, alhamdulillah, berarti aku memang sudah menanggalkan semuanya di masa lalu. Maka bantulah aku untuk menutupi aib-aibku dimasalalu.
Hari ini, jika yang kalian lihat adalah aku yang berubah, alhamdulillah, berarti aku memang sudah berubah. Maka jika ada segala kekhilafan, bantulah aku untuk tidak menyalahkan apa yang aku kenakan, tetapi salahkan apa yang aku lakukan.

Tapi jika yang kalian lihat adalah aku yang sama saja, terimakasih berarti kalian memang melihat siapa sebenarnya aku, tapi aku mohon tegurlah aku jika memang yang aku lakukan sudah tidak sesuai dengan seharusnya.

Sahabat yang baik adalah yang membuat kita menjadi lebih baik. Terimakasih untuk semua sahabat yang telah berdiri di gris depan untuk terus mengingatkan dan menegur saat salah, juga memberi apresiasi saat aku melakukan kebaikan. Jazakumullah khairan katsiran.

Setelah ini, jika bertemu, janganlah ragu menyapa. Janganlah ragu berbagi. Janganlah ragu belajar, karena kita tak akan pernah tahu dari mulut siapa doa dia didengar, dari mana hidayah hidayah itu menyapa, dan dari mana cinta cinta Allah titipkan untuk kita.

Masyaa Allah tabarakallah.

Wabillahitaufiq walhidayah. Wassalau'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





Hamba Allah
Insyaa Allah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar