| purnama di mata senja |
wahai kau sang penghuni hati
masih bisa kah kau merasakan bisik rindu ini?
bisikan yang berulangkali ku sematkan dalam meja perjamuan rindu kita
apakah rasanya terlalu pahit bagimu?
sehingga kau menelan dengan cepat, hingga tak ada rasa yang bersisa
ataukah rasanya terlalu manis?
sampai begitu lama kau kulum dalam mulut mungilmu dan menghabiskannya tanpa sisa
aku memang bukan si peracik rasa yang handal
bukan juga peramu rindu yang kekal
tapi aku bisa menjamin, bahwa aku memiliki sebutir rasa sebagai penawar
pernahkah dalam mimpimu ada aku?
atau hanya bayangan yang berkelebat dalam pejammu?
seperti juga yang ku lakukan
hingga aku lebih memilih untuk bermimpi dari pada membangun nyata dalam perihku
jika kau masih daun yang pernah ku genggam dulu
kembalilah
rebahlah dalam bahuku
yang kuusahakan terus tegap agar dapat menopangmu
atau kembalilah
pada bibir merahku
yang pernah kau miliki dulu sebagai senyum disetiap pagimu
tapi
jika kau sudah lebur bersama tanah merah
atau
terbawa angin menuju mata yang basah
tunggulah
aku akan jatuh bersama mimpi yang ikut menguap bersamaku
biarlah hujan yang menjadi pelanaku menuju bahumu
jika tetes air akan selalu bertakdir dengan daun
aku percaya
embun takkan pernah menghianati rumah perjamuan rindu kita
air yang selalu merindukan daun
purnama ke 63
24 Maret 2016
Kediri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar