sapa

ada sapa dalam setiap temu, meski akhir tak selalu bertemu rindu

22.10.14

Tuan Berkebangsaan Rindu

Di suatu saat yang ragu. Kau mengenggam tanganku sambil berkata,

'Jika aku hanya bagian dari airmatamu, relakanlah aku pergi. Mungkin kau juga sudah begitu lelah dengan airmata yang terus menghiasi pipimu'

Kau melepaskan genggamanmu dan pergi meninggalkanku begitu saja. Aku diam. Kau tak akan pernah mengerti apa yang berada di dalam sini. Setiap tangis yang keluar dari airmataku adalah airmata rindu yang keluar setiap kali aku memikirkanmu. Kau terlalu indah untuk ku lepaskan. Aku tak bisa begitu saja melihatmu pergi tanpa lambaian tangan.

Tapi terlambat. Mungkin suaraku terlalu parau hingga kau tak bisa mendengar suaraku memanggil-manggil namamu. Airmata membuat suara semakin parau. Percuma saja. Kemudian aku berusaha berlari mengejarmu. Tapi kau sudah terlalu jauh. Semakin percuma saja. Kau begitu cepat berlalu.

Angka-angka pada jarak sudah melebihi ribuan mil. Aku sudah kehilangan banyak cara. Airmata yang keluar semakin deras. Entah berapa lama lagi aku seperti ini.

Kemudian, bayangmu datang. Mengabarkan bahwa baik-baik saja disana tanpaku. Aku iri. Aku bahkan tak beranjak dari tempat pertama aku berjumpa dan terakhir kau meninggalkanku. Dalam bayangmu, tubuhmu makin tegap, tatap matamu semakin tajam, masa depanmu semakin mantap. Lagi-lagi aku iri.

Aku memejamkan mataku. Saat aku membuka mataku, bayang itu hilang. Lebih cepat dari saat terakhir kau meninggalkanku. Tidak ada yang bisa aku lakukan.

Aku masih terlarut dalam tangis panjangku. Waktu sudah melebihi ribuan jam. Aku masih ditempat yang sama. Apa yang bisa ku lakukan tanpamu?

Bayangmu kembali hadir untuk kedua kalinya. Kali ini kabar yang cukup mengejutkan untukku.

'Cukuplah menangisi kepergianku. Biarkan aku bahagia. Kau berhak lebih bahagia dari ini. Akan ada seseorang yang menghapus airmatamu melebihi ketulusanku.'

'Tapi......'

'Percayalah. Kau berhak lebih bahagia dari ini. Suatu saat kita akan bertemu dari rindu yang tak pernah mati. Memenangkan jarak dan waktu yang telah kita bagi dengan kenyataan. Aku akan selalu ada di setiap rindu yang yang tuju untukku. Pergilah. Cari kebahagiaanmu. Dia sedang menunggumu.'

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak ingin kau pergi. Kau seharusnya tahu itu. Ribuan waktu dan jarak telah kita habiskan bersama dan sekarang kau harus pergi begitu saja.

'Kau lebih kuat dan tabah dari yang kau tahu. Aku tak akan pernah benar-benar pergi. Aku akan selalu berada dalam rindumu. Kau harus percaya itu. Biarkan aku pergi. Begitupun kau. Biarkan dirimu pergi menuju dunia yang lebih bahagia saat bersamaku. Biarkan rasa percaya dan kekuatanmu yang menuntunku. Jika kau lakukan. Mungkin saja kita akan berjumpa pada saatnya nanti. Saat dimana kita percaya bahwa kebahagian sudah dapat kita temui meski kita tidak bersama.'

'Bahagia itu adalah ketika aku bersamamu.'

'Kau adalah tuan dari rasa bahagia. Biarkan kau yang menuntun kemana arah bahagia itu'

Aku diam. Kau bahkan lebih dingin dari malam. Aku mulai mengerti, kau lakukan ini untuk menghapus airmata dan membuatku menemukan kebahagiaanku sendiri. Aku hanya perlu percaya dan rindu tentu. Agara aku selalu merasa kau bersamaku.

Ketika aku akan mengatakan aku paham dan mengerti, bayangmu kembali hilang. Aku coba gabungkan semua jarak dan waktu. Tapi kali ini, kau benar-benar pergi dan aku tak pernah tahu kapan kau akan kembali.

Aku mulai bangkit. Akan kucari dimana kebahagian itu menantiku. Ku biarkan hatiku terbang bebas mengangkasa. Bersama ribuan rindu yang pasang sebagai penjaga. Agar aku bisa kembali kepadamu, kapan dan bagaimana pun caranya.

Tunggu aku Tuan. Tunggu aku di negara kelahiranmu. Tunggu aku di Negara Rindu. Negara tempat kita pertama dan terakhir bertemu. Sebelum kita takhlukkan Negara Cinta, Amarah, Maaf, Terimakasih, Tulus, Bohong, Jujur, Benci, Sayang, Tangis, dan Senyum bersama. Kini aku harus benar-benar menikmati negara-negara lain tanpa bersamamu. Tapi hati akan tetap bersamamu Tuan. Begitu pun sebaliknya.

Tunggu aku Tuan berkebangsaan Rindu.




Nona berkebangsaan Temu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar