sapa

ada sapa dalam setiap temu, meski akhir tak selalu bertemu rindu

13.5.13

Perjalanan Sederhana













Perjalanan tidak selamanya harus direncanakan. Seperti yang tergambar dalam foto - foto ini. Diambil di sekitar aliran Sungai Cimahi (katanya) pada tanggal 5 Desember 2009. Saya dan 3 orang lainnya yaitu Hadi, Satria, dan Reza sedang melakukan Pra Diklatsar GEPALA yang ke XXVIII. Tidak banyak planing kami saat itu. Saya dan Hadi sebagai panitia hanya berencana untuk mengajak Satria dan Reza untuk bermain di Curug Layung. Ya sekedar refreshing karena waktu - waktu di sekolah terasa begitu menjenuhkan.
Saya tidak ingat berapa lama waktu tempuh kearah sana. Karena saya pun baru pertama kali saat itu. Kami hanya berjalan mengikuti suara sungai dan feeling. Bahaya sih sebenarnya. Tapi karena kita tidak mau terlihat 'tidak tahu apa - apa' oleh si junior,maka segala resiko akan kami hadapi.
Beruntung kita bisa menemukan tempat tersebut. Jauh dari bayangan sebenarnya. Saya berasumsi bahwa di tempat tersebut terdapat curug yang benar - benar menjulang. Tapi yang saya temukan hanya aliran sungai. Entah benar atau tidak, tapi saya sangat menikmati pemandangan yang ada disana. Serasa tempat tersebut memang Tuhan ciptakan hanya untuk kita.
Karena sudah mencapai taget, maka kami menghabiskan waktu disana. Sampai akhirnya sekelompok orang yang tidak tahu dari mana rimbanya datang menghampiri kami. Hanya sekedar bertegur sapa, saya, Satria, dan Reza meneruskan kembali bermain air. Sedangkan Hadi dengan ilmu sosial nya yang tinggi (meski terkadang orang lain tidak tahu apa yang dibicarakannya) berbincang dengan beberapa diantara mereka. Mungkin SKSD pikirku. Taka lama Hadi menghapiri kami dan mengatakan bahwa diantara mereka, ia mengenalnya. Dan kelompok orang - orang itu mengajak kami untuk bergabung. Karena tidak ada rencana lain dan pengalaman yang didapat oleh Satria dan Reza hanya sedikit jika tidak ikut. Maka saya putuskan untuk bergabung bersama mereka.
Sambil berjalan akhirnya diketahui bahwa orang - orang tersebut adalah Mahasiswa Jurusan Geografi UPI yang sedang melakukan pembelajaran di lapangan dengan menyusuri Sungai Cimahi. Ternyata satu kandang  pikirku. Sambil berjalan orang yang lebih 'senior' diantara mereka menjelaskan kondisi geografi yang mereka temukan diperjalanan. Tapi karena saya kurang tertarik dengan yang dijelaskan, maka saya dan teman yang lain memilih untuk ber'narsis' ria. Karena tempat seindah ini sayang sekali di lewatkan. Mungkin jika tidak bertemu dengan mereka, saya tidak akan pernah tahu bahwa disekeliling kita sebenarnya banyak sekali yang belum terjamah.
Kami mengikuti selangkah demi selangkah perjalanan mereka. Melewati kebun teh, curug demi curug, sungai demi sungai. Sampai pada akhirnya kami sampai di sebuah tempat. Tempat yang menurut saya punya kenangan yang sanagt dalam. Bagaimana tidak, saat Diklatsar GEPALA kami dibariskan disana dan dibacakan tata tertib untuk diikuti selama Diklatsar. Dan disanalah awal perjalanan saya di GEPALA yang sampai hari ini masih juga saya jalani.
Lelah,puas,bahagia,rindu, semua rasa bercampur saat itu. Tempat sederhana yang begitu menakjubkan ternyata berada disekeliling kita. Tanpa harus kita cari mereka ada di dekat kita. Hanya saja kita harus cukup tahu diri untuk lebih dekat mengganggu mereka.
Dan saat ini. Yang ingin saya ucapkan hanyalah terimakasih. Kepada Tuhan, teman - teman, kelompok Mahasiswa Geografi UPI, dan tentu saja GEPALA yang telah memberi saya kesempatan menemukan hal - hal luar biasa dalam perjalanan yang begitu sederhana. Ternyata meskipun kita menjalani sesuatu tanpa rencana, asalkan kita menikmati, kita akan bisa melewatinya.


Bandung, 13 Mei 2013
tirta angan

4 komentar:

  1. Hayang ngajleng dan guyang aa mah euy.
    Kemungkinan Curug Layung-nya mah undakan yang bawahnya. Soalnya tempat yang suka dipake guyang itu dulu lebih dikenalnya sebagai Leuwi Layung-nya meski emang ada curugnya kecil.

    Tapi namanya nu hebat mah, layung..

    BalasHapus
  2. umm...tapi bener ya a.itu di curug layung emang disediain buat guyang kayanya teh..apalagi batu yang ditengah.botram waktu itu ge ma temen pas kesana lagi.

    BalasHapus
  3. Heeuh jigana mah, daerah situh juga cenah ada namanya leuwi jurig.
    tapi teu apal belah mana. kalo pernah dilihat di kamus,
    leuwi jurig teh leuwi nu dilindungi.
    bisa jang melak lauk, bisa jang guyang para gegeden bareto meuren.
    wah botram nih, atau jang botram para raja meureunannya. :-P

    BalasHapus
  4. hhahahah..
    imajinasi nya ketinggian.. :p
    deuh.namanya aja nyeremin gitu.

    BalasHapus