sapa

ada sapa dalam setiap temu, meski akhir tak selalu bertemu rindu

13.5.13

Tentang Kesederhanaan


Percakapan malam ini dengan seorang temanku yang bernama Ulin. Nama yang tak asing untuk seorang berdarah Sunda. Tapi namanya bukan berarti 'main' seperti dalam bahasa sunda,katanya namanya diambil dari bahasa arab yang alu lupa apa artinya. Oke. Bukan disitu point ceritanya. 
Saat aku sedang mejeng di Facebook,aku memulai percakapan dengannya. Ya hanya sekedar say hallo dan basa basi. Sampai akhirnya dia berkata sesuatu "mi bikinin puisi. yg mengilustrasikan sebuah benda (alat-alat kebersihan.kudu berima, bermajas" "jang naon?" kataku. "tugas adi urg.3 bait trus 1 majas personifikasi 2 majas perumpamaan". "kalem ya.mikir dulu" balasku. Entah apa yang ada dipikiranku. Saat itu aku berpikir. Ah.yang begini mah gak susah susah amat. "oke mi.ku aing tunggu sampe 5 menit kedepan.besok dikumpulin.haha.kamu harapan kita 1 1 nya". Waduh 5 menit pikirku. Tapi aku pun sudah berpikir kalau itu memang waktu yang tidak mungkin. Ah, aku jalani saja sambil berpikir. Kemudian aku bertanya "3 bait doang nih?". Karena asumsiku, akan lebih sulit membuat sesuatu yang dipatok namun begitu singkat. Dan ternyata asumsi Ulin berbeda. "jir.sia edan dong.jagoan gitu.3 bait kaya yg mudah banget". Padahal maksudku ya aku biasa membuat yang bertele tele.
Tidak lama aku kebingungan, majas perumpamaan? Rima? Ah. Ternyata ingatanku tidak sampai sana. Sambil menegrjakan dan berpikir, aku buka laman - laman yang membahas tentang majas dan rima. Ah. Selesai maka ku kirim pada Ulin. 
"sapu bercerita padaku
: katanya lantai ini bagaikan berlian dalam rimbaku
laksana terserok dalam langkah yang terhapus jejak lamaku"
Tapi ternyata "lain.misal , aku setiap hari selalu dipake oleh majikannku untuk membersihkan debu debu yang ada di lantai aku mempunyai banyak rambut , dan aku mempunyai teman yang selalu menemaniku yang biasanya membawa debu-debu kotor itu (serok).cek adi urg kieu mi.hampura loba pamenta". Tapi yang ada dipikiranku. Ah itu sih bisa lebih mudah. Dan nyatanya, aku mengerjakan itu lebih lama dari yang sebelumnya. Ya. karena menurutku itu terlalu sederhana. Intinya aku menyepelekan. Tapi aku sendiri tidak bisa berbuat apa apa.
Selesai. Kukirim kembali perintaanya yang kedua.
"aku selalu dibawa menari pada setiap sudut rumah oleh pemilikku
aku selalu bersemangat bagai baja jka melihat debu debu
jemariku seumpama tentakel yang menyedot seluruh debu itu"
3 bait. Bait pertama hingga akhir adalah personifikasi. 2 bait lainnya addalah perumpamaan. Selesai kataku dalam hati. Kemudian ku tambahkan "kitu lain?bejakeun kitu ka guruna.tong membatasi kreatifitas siswa..bo teuing hayang na kumaha.ieu mah di patok kudu kitu kieu na.atuh jangar nuturkeun jayang guru..heu". Karen akau merasa kreativitasku dibatasi dengan memberiakn aturan harus begini begitu. Sedangkan sajak atau puisi bagiku tidak bisa dipaksakan.Itu akan keluar dengan sendirinya. Kemudian "tp 3 bait" katanya. Aku mengumpat lagi. Bukankah itu sudah 3 bait? "eta teh 3 baiiittt" "3 paragraf maksudna mi". Damn, aku benar - benar lupa. Kalau yang ku buat itu bukan 3 bait. Tapi hanya 3 baris. Pantas saja ku pikir itu terlalu mudah. Jadilah aku mengumpat diriku sendiri. "eh.baris nya eta mah.halaahhh.hanas di awet awet eta kalimat na." Tapi ya sudahlah. Aku berpikir lagi. Kurasa akan lebih mudah pikirku. Karena yang awalnya terbatas. Aku sekarang bisa lebih mengeksplore tulisanku.
Ternyata tidak semudah yang aku duga. Membuat sesuatu yang sederhana pun aku tidak bisa. Aku terbiasa menulis sesuatu yang sederhana menurutku. Tapi sebenarnya bagi sebagian orang, itu terlalu berat dan terlalu sastra. Padahal tidak bagiku. Baguku tulisan tulisanku tidak sebagus yang orang lain punya. Aku hanya menuliskan apa yang ada di dalam sini. Agar aku bisa mengingatnya dan membaginya pada yang lain. Setelah berkeringat panjang karena tidak mampu menuliskan apa - apa lagi. Pekerjaanku yang ketiga ini menjadi lebih mudah. Kaena seperti biasanya, aku hanya perlu banyak menulis. Itu saja. Sampai akhirnya,
"aku ada dimanapun sesuka hatiku 
aku selalu dibawa menari pada setiap sudut rumah oleh pemilikku
membersihkan setiap debu bengal yang ada disekelilingku
meskipun lelah aku ceria selalu
semangatku bagai baja jika melihat debu debu
aku lahap habis apapun yang ada dihadapanku
besar kecil tidak soal bagiku
yang terpenting rumah bersih selalu
jemariku seumpama tentakel yang menyedot seluruh debu itu
berlari kesana kemari tak kenal waktu
kemudian ku beri pada temanku
tempat sampah teman setiaku"
Baiklah. Tuagsku selesai. Aku tidak terlalu puas. Tapi untuk Ulin ini sudah lebih dari cukup. "tami emg lah maneh.ga sia sia ku urg di pajang di status fb.hahahaha" "mugi katampi" "nuhunn.urg nu katampi mi" Syukurlah.
Dari yang alami hanya dengan beberapa menit ini aku sadar. Ternyata sesuatu yang kita pikir sederhana itu bisa saja kita anggap rumit jika kita tidak siap. Lagi - lagi sederhana yang harus ku pelajari.


Bandung, 13 MEI 2013
merenung dalam kesederhanaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar