Aku berdiri sejenak, menatap lazuardi yang sama sekali tak terlihat bersahabat. Matahari yang terus mengolok ngolok mata yang mulai kehabisan air matanya. Kulit sudah mulai meringis karena angin terus menggodanya tanpa kesejukkan. Ada apa hari ini? Tidak seperti biasanya.
Aku masih berdiri, sampai seekor kucing bermanja di ujung jari kakiku. Sejenak terperanjat, lalu ku lanjutkan dengan memperhatikan bunga yang begitu saja tumbuh dihalaman depan rumahku. Dengan ilalang ilalang yang merayunya malu malu. Sedang bunga dengan sombong dan angkuhnya berpaling melihat air air yang hampir datang mengisi ruang ruang dalam tanah yang menopang tubuhnya. “Ada ada saja”, kataku.
Aku mulai melangkahkan kaki kaki yang kotor terkena tanah tanah yang usil bergelantungan diatasnya. Kupercikan segenggam ricik air pada tanah yang langsung menghapus jejaknya. Menelan hidup hidup air yang belum separuh detik pun bernafas. Sedang kulihat batu, malah berguling gulingan dalam kubangan yang dibuatkan tanah untuknya, dan untuk lalat lalat yang singgah sejenak disana.
Hutan berbilik, mengintip dari kejauhan. Seorang bocah keluar dari balik tirai tirai bambu yang juga berjaga diujung jalan sana. Bocah itu berjalan perlahan mendekati angin yang mulai pucat karena terlalu bersemangat berputar putar dikarangan rumahku. Sedang musuhnya, kabut, mengincarnya dari balik punggungan dibelakang rumahku.
Awan sejenak menari, saat si bocah mulai berlari meriuhkan helai helai mimpiku yang berterbangan di sekelilingnya. Aku merajamnya. Aku tak suka, karena dengan begitu mimpi mimpi yang sudah berbaris rapih, menjadi lari berhamburan dengan panik. Ah..harus ku ulang dari awal.
Lantas dengan begitu, aku pun berlarian. Mengejar mimpi mimpi itu sebelum mereka dirampas oleh waktu. Yang mungkin saja melintasi mereka tiba tiba. Barang sejenak aku mencuri udara yang dari tadi meledekku dengan hidungku yang mulai mengeluarkan ingus karena dingin yang tak meminjamkan mantelnya untukku.
Si bocah memperhatikanku. “Bodoh. Kau malah melihatku dengan begitu ibanya. Bukannya kau bantu aku. Sialan!!” umpatku dalam hati. Tak sampai hati jika aku mengotori mulutkku dengan umpatan pada bocah, yang aku rasa terlalu bodoh untuk tahu betapa berharganya mimpi itu untukku.
Aku melupakan bunga bunga yang sudah mulai mengembangkan makhkotanya. Angkuh dan sombong. Seperti merak yang sedang mempertunjukkan ekornya pada orang orang yang barang sejenak menyumbangkan perhatian untuknya.
Aku terlalu takut mimpi itu lenyap. Entah terbawa angin yang sedang berfoya foya dengan kesenangannya. Atau bahkan dirampas oleh waktu yang sesekali mengintai dari balik rumahku. Atau hilang karena ia terlalu jauh berlari, hingga tak kembali saat melewati hutan bilik.
Lantas, si bocah mendekatiku. Memberi selembar daun yang dipungutnya bersama sajak di tong sampah yang simpan diujung angan rumahku. Katanya pada hatiku, “tak perlu kau takut kehilangan mimpimu. Dia akan selalu ada, kau yang mengatur otak dan semua isi perutnya dengan kemauan dan tekadmu. Saat dia hilang, kaulah penciptanya. Sehingga ia akan terlahir kembali dari rahim keinginanmu. Waktu tak akan merampasnya. Ia hanya akan merampas hidupmu yang telah kau buang. Ia hanya mengaisnya dari tong sampah di ujung detik detikmu. Mimpimu tak akan hilang dibalik hutan bilik itu. Karena disitulah rumah dimana seharusnya dia berada. Mimpi hidup di nafas dan nadimu. Dan di hutan bilik itu, nafas dan nadimu hidup. Angin pun takkan membawanya pergi dari pelukmu. Karena ia cukup sadar untuk membawa mimpi yang sedemikian suci untuk diajak berfoya foya.”
Ah, anak kecil itu mengguruiku dengan bersahaja. Mulutku yang begitu lentur, bahkan terlalu kaku untuk menjawabnya. Ku tulis di selembar daun yang telah ia beri tadi untukku. Dengan arang yang pasrah kugenggam dengan tangan mungilku, ku tulis sekata demi sekata apa yang aku ingin ucapkan pada si bocah.
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.*
Aku bahkan tak memperhatikan airmata yang dengan lincahnya menari di pipiku. Entah dari mana asalnya, karena yang kuingat iya telah mengering di dasar kerapuhanku. Ya, ada yang telah luput dari pandanganku. Aku telah mengabaikan keinginan mimpi untuk sekedar bebas berlari di halaman imaji fikiranku. Ingin ku pandangi senyum yang menjadi perhiasan diwajahnya.
Ku ajak si bocah yang mengantungi mimpinya, untuk sejenak berbaring di atas rumput rumput yang menjamu kami untuk singgah di peraduannya. Memandang lampu lampu yang berpijar di langit langit imaji kami.
Seiring dengan cahayanya yang berpendar. Aku pun perlahan terjaga dari mimpi yang ku jaga. Dan aku, menyambut pagi dengan bersalaman pada sejuk dari embun yang ku pinjam dari halaman imajiku.
23:00 26 Agustus 2010 – 00:02 27 Agustus 2010
@cijerah
Merindu mimpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar