: untuk Muhammad Ghazi Ibrahim
ketika rindu ini perlahan terus menggerogoti tubuhku
mempreteli bagian tubuhku satu persatu dari tempatnya
ketika diam ini perlahan terus menjelma sepi
membekukan jantung dan semua urat syarafnya
ketika do'a ini perlahan terus meraban cakap
membaris pula disana mimpi dan air mata
matahari kehilangan hangatnya, karena hanya ada dingin yang mampu aku resap
air kehilangan jernihnya, karena hanya keruh yang mampu ku cecap
kau masih ada disini
berbaring nyenyak dalam permadani tebal yang telah kusiapkan sejak lama
dengan selimut hangat dan mainan kesayanganmu
menunggu ibu
membangunkanmu dengan lembut diujung kasur
sambil menyiapkan secangkir susu kesukaanmu
menunggu ayah
mengimami shalatmu dengan khusyuk diujung sejadah
sambil melantunkan dzikir dan asmaNya
menunggu aku
mendengarkan ceritamu dengan sabar diujung kursi
sambil memakan kudapan yang sudah kita siapkan sebelumnya
menunggu,untuk berkumpul kembali
sampai akhhirnya
tubuhku akan merasakan kembali hangatnya matahari
mencecap kembali riaknya air
dan kemudian
rindu menyusun kembali tubuh yang terlepas
diam menjadi lebih ramai dari gaduh
do'a membaris kata dan mimpi yang pergi
Maha Suci dan Maha Tinggi Dia yang tak mampu kujangkau dan kuraba. Betapa sukarnya menaklukkan angkuh dan angkara yang berkecamuk dalam dada manusia. Betapa bebalnya hamba yang sulit menerima kenyataan diri yang kotor dan hina dihadapan keagungan Tuhan dan sesama. Rayi, apa lagi yang bisa dilakukan sesama pengembara yang belum tiba, kecuali saling menguatkan dan melayangkan terus-menerus doa. Semoga Allah mencurahkan segala Rahmat dan Maghfirah-Nya kepada kita. Juga memelihara segenap orang-orang yang kita cinta, dengan Kemurahan-Kasih-Sayang-Nya yang niscaya. Rayi, jangan sedih; jangan kehilangan sabar dan lapang dada. Segala apa yang engkau harapan, akhirnya akan tiba juga; insyaallah. Semoga Allah memberikan kekuatan untuk terus belajar dan menghamba. Maaf atas kelancangannya menyapa. Lihat, betapa banyak rasa yang telah rindu ajarkan kepada anda. Dan diam, sekedar waktu yang mencerna dalam basuhan bersih air-mata.
BalasHapusterimakasih sudah diingatkan terus untuk selalu ingat dan bersyukur.. :)
BalasHapuskarena itu aku mengatakan bahwa dia seperti biasanya menunggu kami untuk kembali berkumpul.aku selalu sadar bahwa kita akan ditinggalkan sampai akhirnya meninggalkan.
syahdu dari rasa rindu ini pun terus aku cecap,meski terkadang ada rasa pahit. tapi bukan pahit karena merasa kehilangan, tapi pahit karena untuk membayar rindu itu tak banyak yang bisa ku lakukan.
terimakasih sudah terus diingatkan untuk terus sabar dan berlapang dada, semoga Allah terus menambah dan menjagaNya di dalam sini juga didalam sana... :)